BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Pendidikan Bilingual
Secara harfiah, kata bilingual berarti dwi bahasa atau dua bahasa. Pengertian bilingual dalam
kamus bahasa Indonesia (2004: 67) mampu atau biasa memakai dua bahasa.
Pembelajaran bilingual adalah pembelajaran yang menggunakan dua bahasa sebagai
media pengantar pembelajaran. Pembelajaran dalam bahasa Inggris (bilingual)
adalah pembelajaran yang materi pembelajaran, proses belajar mengajar, dan
penilaiannya disampaikan dalam bahasa Inggris. Jadi, pendekatan pembelajaran
bilingual merupakan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bilingual,
yakni jalan yang digunakan oleh guru untuk menciptakan suasana yang
memungkinkan siswa belajar dengan menggunakan pengantar dua bahasa. Hal ini bukan berarti belajar
bahasa Inggris semata tetapi menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
untuk mempelajari sebuah kurikulum.
Menurut Garcia (dalam Puspandari,
2008) pendidikan bilingual terdiri dari dua jenis, yaitu additive bilingualism
dan subtractive bilingualism. Pendidikan bilingual dikatakan additive
bilingualism jika bahasa ibu (mother languange) digunakan dan bahasa kedua
(second languange) adalah sebagai tambahan. Sedangkan, pada subtractive
bilingualism, guru mengajar dengan kedua bahasa, yaitu bahasa ibu (mother
languange) dan bahasa kedua (second languange). Namun, pada bagian tertentu
bahasa ibu berhenti digunakan, dan dilanjutkan oleh bahasa kedua, sehingga pada
akhirnya siswa hanya menggunakan satu bahasa dalam pembelajaran (Lambert dalam
Puspandari, 2008). Menurut Barker (dalam Puspandari, 2008), pendidikan
bilingual yang mengarah pada additive bilingualism dikatakan kuat, sedangkan
yang mengarah pada subtractive bilingualism dikatakan lemah.
Bentuk lain dari content-based
instruction ialah program imersi di mana proses belajar mengajar sepenuhnya
memakai bahasa Inggris. Keunggulan kelas bilingual ialah materi pelajaran
ditulis dalam bahasa Inggris dan relevan dengan kurikulum atau kebutuhan
akademik siswa. Dengan demikian pengajaran menjadi sangat bermakna dan dapat
menjadi faktor pendorong motivasi belajar.
Secara umum, kurikulum yang diterapkan di sekolah bilingual mengacu pada
kurikulum Nasional. Dalam implementasinya, diperkaya dengan kurikulum yang
dikembangkan oleh sekolah sendiri yang berorientasi pada kurikulum
internasional.
2.2.
Tujuan Pendidikan Bilingual
Pendidikan bilingual memiliki dua tujuan yang berbeda.
Yang pertama adalah pengembangan Bahasa Inggris secara akademik untuk
keberhasilan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dan yang kedua adalah
melestarikan warisan bahasa. Program pendidikan yang baik akan mencapai kedua
tujuan tersebut. Namun tujuan utama dalam pendidikan bilingual adalah
memberikan bekal ketrampilan berbahasa kepada siswa yang mencakup ketrampilan
menyimak, berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa selain bahasa ibu,
disamping membelajarkan isi melalui ketrampilan berbahasa tersebut.
Djamarah, Syaiful Bahri (2002: 144) berpendapat bahwa
Hal ini didasari oleh kenyataaan bahwa transfer literatur antar bahasa melalui
pengembangan literatur bahasa Ibu merupakan sebuah jalan pintas untuk
mempelajari literatur bahasa Inggris. Alasannya sederhana: Jika kita belajar
untuk membaca dengan memahami makna pada setiap halaman, maka akan lebih mudah
untuk belajar membaca jika kita memahami bahasa yang digunakan. Sekali kita
dapat membaca, kita akan tetap dapat membaca, yakni kemampuan untuk mentransfer
ke bahasa lain.
Menurut Arnyana
(2008), tujuan yang ingin dicapai dengan pembelajaran bilingual adalah: (1)
meningkatkan penguasaan materi pelajaran, (2) meningkatkan kemampuan berbahasa
Inggris dalam forum ilmiah maupun non-ilmiah, (3) mampu mengakses pengetahuan
ilmiah dari berbagai media internasional, serta (4) mampu berkomunikasi antar
siswa baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut Roberts (1995), terdapat dua
kemungkinan outcome dari pendidikan bilingual, yaitu siswa mantap dengan first language dan
memperoleh second language dan selanjutnya siswa kehilangan first language
dalam proses memperoleh second language.
2.3. Peranan Guru
Seorang guru
kelas bilingual harus orang yang bilingual, fasih dalam dua bahasa. Chin dan
Wigglesworth (2007) membedakan dua macam ketrampilan bilingual. Pertama, balanced
bilingual, yaitu orang yang dapat menguasai dua bahasa secara sempurna
dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam konteks sistem pendidikan Indonesia,
kemampuan seperti ini sangat sulit untuk dikuasai. Yang kedua ialah dominant
bilingual, yaitu orang yang dominan dalam salah satu bahasa. Dalam praktek,
ketrampilan seperti ini tidak dapat diterapkan untuk membicarakan semua hal.
Guru bahasa Inggris, misalnya, mungkin tidak mampu menerangkan masalah biologi
dengan benar dalam bahasa Inggris karena bahasa yang lebih dikuasainya atau
yang lebih dominan ialah bahasa Indonesia. Demikian juga halnya dengan orang
asing yang menguasai bahasa Indonesia mungkin tidak mampu menerangkan masalah
budaya mereka dalam bahasa Indonesia, mereka akan menggunakan bahasa Inggris
karena bahasa ini yang lebih dominan.
Guru bilingual guru mempunyai tiga macam peran dalam menjalankan tugasnya:
(a) sebagai praktisi, guru mempunyai tugas untuk mendesain dan mengatur proses
belajar mengajar, memberi penjelasan masalah-masalah kebahasaan (bahasa
Inggris), dan secara terus menerus mengembangkan kemampuan bahasa Inggris siswa.
(b) sebagai perancang materi, guru mempunyai tugas untuk merencanakan PBM,
memilih materi yang cocok dengan silabus, memodifikasi materi supaya sesuai
dengan tingkat kemampuan siswa, atau membuat materi yang baru sama sekali jika
materi yang siap pakai tidak ada. Dan (c) sebagai evaluator, guru mempunyai
tugas untuk mengevaluasi efektivitas materi pelajaran dan melakukan evaluasi
terhadap pemerolehan belajar siswa.
Ketiga peran tersebut di atas dapat dijalankan dengan baik jika bahasa
Inggris merupakan bahasa pertama atau bahasa kedua, dan guru tidak mengalami
kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris karena mereka adalah penutur asli
bahasa Inggris. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, bahasa Inggris adalah
bahasa asing yang harus dipelajari dan diajarkan dengan model pendekatan yang
berbeda dengan model pendekatan pembelajaran di negara-negara yang berbahasa
Inggris di mana para guru tidak mempunyai masalah dengan bahasa pengantar.
Dalam menjalankan proses belajar mengajar, guru bilingual harus mempunyai
dua macam pengetahuan kebahasaan, yaitu pengetahuan tentang istilah tehnis (technical
vocabulary) dalam mata pelajaran tertentu dan pengetahuan tentang tata
bahasa Inggris. Menerangkan konsep yang terkandung dalam istilah-istilah tehnis
mungkin bukan merupakan masalah yang terlalu berat karena guru sudah mempunyai
latar belakang ilmu yang diajarkan. Ini merupakan kekuatan bagi guru bilingual.
Yang perlu harus dikembangkan ialah pengetahuan tentang tata bahasa dan
ketrampilan menggunakan bahasa Inggris baik untuk keperluan umum
(non-pedagogis) maupun untuk mengajarkan materi pelajaran (ketrampilan
pedagogis). Bagaimanapun juga, mengajarkan suatu topik mata pelajaran dengan
pengantar bahasa Inggris tidak bisa lepas dari pengajaran tata bahasa walaupun cara
mangajarkannya tidak persis sama seperti mengajarkan tata bahasa dalam
pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib (English for General
Purposes) pada umumnya.
Dalam mengajar, guru bilingual akan selalu mengadakan interaksi verbal
dengan siswa baik satu arah maupun dua arah. Dalam hubungan ini, ada berbagai
fungsi bahasa yang perlu dikuasai dalam mengajarkan materi (content
knowledge), misalnya saja: menjelaskan konsep, melaporkan kejadian
tertentu, memberikan definisi, memberi instruksi, menjelaskan proses,
menjelaskan klasifikasi, memberi contoh, menerangkan tabel, gambar, ilustrasi,
atau grafik, membandingkan dua masalah, membuat kesimpulan, dll.(Gillet, 2007).
Fungsi-fungsi bahasa seperti ini memerlukan transactional skills, yaitu
ketrampilan untuk menyampaikan infromasi yang bersifat satu arah, dan interactional
skills, yaitu ketrampilan untuk melakukan interaksi bahasa dua arah,
misalnya dalam diskusi walaupun dalam bentuk sederhana, atau dalam menjawab
pertanyaan atau memberikan feedback (Yule, 1997).
Dalam proses pembelajaran bahasa, dikenal dua macam feedback, yaitu feedback
terhadap kesalahan tata bahasa (Doughty & Williams, 1998) dan feedback
terhadap masalah makna komunikasi seperti yang terungkap dalam penelitian oleh
Astika (2007). Kedua macam feedback tersebut bisa juga dilakukan
dalam bentuk tulis jika assessment terhadap hasil pembelajaran siswa
dilakukan dalam bentuk tertulis, atau dalam bentuk dialog (Weisberg, 2006), di
mana guru, selama proses belajar berlangsung, berdialog dengan siswa agar
siswa dapat menyelesaikan tugas. Sudah barang tentu guru harus memiliki
ketrampilan bahasa Inggris tingkat lanjut.
Mengingat kondisi sumber daya guru yang mampu mengajar bilingual saat ini, sangat sulit rasanya untuk mencapai
tingkat kemampuan bilingual tertentu agar dapat mengajar kelas bilingual
seperti yang diharapkan. Banyak hasil penelitian pemerolehan bahasa menunjukkan
bahwa secara umum penguasaan bahasa asing (Inggris) akan bisa maksimal jika
dimulai sejak kecil, terutama dalam penguasaan ucapan. Orang dewasa, termasuk
guru-guru mata pelajaran yang harus
belajar bahasa Inggris lagi melalui kursus atau pelatihan, akan sangat
terpengaruh oleh sikap, motivasi, bakat, umur, dll, dan faktor-faktor tersebut
akan secara signifikan dapat mempengaruhi hasil belajar.
Para guru tersebut akan dapat menerapkan proses
pendidikan bilingual dan dapat mengimplementasikan hal-hal berikut ini:
a.
Guru dapat memotivasi siswa untuk
berani berbicara bahasa kedua. Selain itu, guru beserta Kepala Sekolah dan
tenaga administrasi bersama-sama menciptakan suatu lingkungan berbahasa Inggris
yang baik.
b.
Guru memberikan tugas-tugas tertulis
untuk meningkatkan pola pikir dan kemampuan siswa dalam menulis dan membaca.
c.
Menerapkan adaptasi dan strategi
untuk menciptakan akses pada kemampuan siswa dalam menulis pemahaman
konseptual.
Untuk memenuhi tuntutan guru menggunakan bahasa
Inggris sebagai bahasa pengantar dalam beberapa mata pelajaran telah mendorong
sekolah untuk merancang berbagai program pelatihan bahasa Inggris untuk
guru-guru. Mereka dikirim ke lembaga-lembaga pendidikan formal untuk mengikuti
kursus bahasa Inggris selama beberapa bulan dengan harapan bahwa setelah
menyelesaikan kursus mereka akan siap mengajar dengan bahasa Inggris. Ada juga
sekolah yang mengundang pakar pendidikan bahasa Inggris untuk memberi pelatihan
kepada guru-guru di sekolah secara reguler, di tengah-tengah kesibukan mereka
mengajar.
2.4. Model Kelas
Bilingual Yang Dapat Dikembangkan
Perkembangan baru dalam system pendidikan nasional Indonesia. Perkembangan ini memerlukan
pembaruan daya dukung berupa sarana dan prasarana pendidikan, sistem manajemen
sekolah, dan guru yang berkualitas yang dapat menguasai teknologi
informasi. Oleh sebab itu perlu dirancang model pembelajaran yang dapat
mengakomodasi perkembangan teknologi agar pembelajaran dapat efektif dan
kompetitif. Model ini disebut co-teaching atau team teaching.
Model ini menunjukkan bahwa dalam kelas bilingual perlu ada dua orang guru,
misalnya guru bahasa Inggris yang bertanggung jawab mengajarkan masalah-masalah
kebahasaan (Inggris) dan guru Matematika yang bertanggung jawab mengajarkan
substansi pelajaran – matematika. Bahan ajar dalam model seperti ini sudah tentu
harus dalam bahasa Inggris.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, konsep-konsep matematika dapat diajarkan
terlebih dahulu oleh guru Matematika dalam bahasa Indonesia dan beberapa kata
dalam bahasa Inggris yang dikuasainya dengan baik. Sesudah itu guru bahasa
Inggris mengajarkan masalah-masalah kebahasaan dalam bahasa Inggris yang
diperlukan untuk memahami bahan ajar matematika dalam bahasa Inggris. Karena
siswa sudah diajar konsep-konsep matematika, mereka sudah mempunyai pengetahuan
tentang pokok bahasan dan pengetahuan ini dapat membantu pemahaman mereka untuk
mengetahui bahan tersebut dalam bahasa Inggris. Dengan model seperti ini,
kelemahan guru Matematika yaitu kurangnya kemampuan bahasa Inggris, dapat
dibantu oleh guru bahasa Inggris dan guru bahasa Inggris tidak perlu lagi
mengajarkan konsep-konsep matematika. Dalam kondisi yang ada sekarang di mana
guru mata pelajaran belum sepenuhnya dapat mengajar kelas bilingual secara
mandiri, pendampingan guru bahasa Inggris dengan model ini sangat diperlukan.
Model ini dapat membantu siswa menguasai substansi mata pelajaran dan bahasa
Inggris secara bersamaan.
Keberhasilan dari model ini sudah tentu akan bergantung kepada banyak
faktor. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa kerjasama kedua orang guru
harus mulai dari pembahasan tentang kurikulum, desain silabus, seleksi dan atau
adaptasi materi, dan proses belajar mengajar di kelas. Setiap tahap dari
pengembangan model ini harus disertai dengan evaluasi dengan mempertimbangkan
konteks belajar (learning needs) dan tujuan belajar (target needs).
Liu (2008) Model ini dikembangkan di sekolah dasar di Cina dalam
kelas-kelas bilingual. Guru yang terlibat dalam co-teaching ialah guru
penutur asli berbahasa Inggris dan guru lokal. Dalam pelaksanaan pembelajaran
di kelas, mereka bekerjasama mulai dari perencanaan pelajaran sampai dengan
pelaksanaan evaluasi. Model ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di
Indonesia, untuk memperoleh guru penutur asli berbahasa Inggris sangat sulit.
Namun demikian, kendala ini bisa diatasi dengan melibatkan guru bahasa Inggris
yang ada di sekolah dengan mempertimbangkan masalah-masalah administratif dan
manajerial sekolah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan team teaching
(Liu, 2008). Dalam team teaching, guru-guru yang terlibat mempunyai tanggung
jawab dan status yang sama. Secara bersama-sama mereka mendesain perencanaan
mengajar, mengadakan evaluasi dan bertanggung jawab kepada semua siswa di
kelas. Guru bahasa Inggris dalam team teaching tidak lagi dianggap
sebagai asisten guru mata pelajaran, tetapi dianggap sebagai sumber
pengetahuan, fasilitator, dan guru yang mempunyai status yang sama. Dengan kata
lain, kedua guru secara efektif saling melengkapi satu sama lain sesuai dengan
tanggung jawabnya masing-masing dalam proses belajar mengajar.
Model team teaching ini bisa berhasil hanya jika kedua guru memiliki
ketrampilan dan hubungan kerja yang kuat, profesional, mempunyai rasa saling
percaya, bersedia menyediakan waktu yang cukup untuk mewujudkan tujuan
pengajaran. Guru yang terlibat dalam team teaching harus mempunyai pengalaman
mengajar yang cukup. Mereka perlu memahami peran masing-masing di kelas, jika
tidak, hal ini dapat mempengaruhi kenerja team dan dapat dianggap sebagai
kompetisi antara guru dalam team, yang akhirnya dapat melemahkan semangat
kerja. Team teaching harus dipahami sebagai usaha untuk meningkatkan
kompetensi mengajar dan melengkapi kelemahan masing-masing sebagai guru kelas
bilingual.
Strategi pelaksanaan team teaching harus juga dipersiapkan dengan seksama,
antara lain:
a.
Persiapan
Dalam tahap ini, guru mata pelajaran dan guru bahasa Inggris membicarakan
bagaimana cara mengajar siswa secara efektif. Diskusi difokuskan pertama-tama
pada tingkat kemampuan siswa secara keseluruhan dalam kelas yang akan diajar,
kekuatan dan kelemahan mereka, aspek apa yang perlu diperhatikan, masalah
disiplin, dll. Guru dalam team harus menetapkan tujuan mengajar, menentukan
topik bahasan untuk satu semester. Persiapan ini bisa memerlukan beberapa
pertemuan agar setiap guru memahami apa yang menjadi target pembelajaran dan memahami
ciri-ciri pengajaran dalam team, dan mengembangakan rasa percaya diri.
Model pengajaran ini juga memerlukan pertemuan dan diskusi secara teratur
selama semester berjalan untuk merencanakan persiapan pengajaran. Oleh sebab
itu sangat penting membuat jadwal yang teratur untuk mengadakan pertemuan dan
merencanakan unit-unit pelajaran, antara lain menyangkut:
1. Apa yang akan diajarkan
2. Materi atau sumber belajar yang akan dipakai
3. Peran dan tanggung jawab masing-masing guru
4. Bagaimana mengevaluasi belajar siswa
5. Bagaimana cara membantu siswa yang lemah dan perlu bantuan.
Masalah-masalah ini memerlukan diskusi mendalam agar peran dan tanggung
jawab masing-masing guru menjadi jelas. Setiap guru harus mempunyai hak untuk
mengutarakan pendapat dan memberikan kontribusi positif dalam membuat rencana
pelajaran. Pada dasarnya, setiap guru dalam team perlu menyadari pentingnya
toleransi, adanya perbedaan, dan mencari jalan untuk membuat perencanaan
yang bermanfaat bagi siswa.
b.
Pelaksanaan
Dalam implementasinya, model team teaching memerlukan dukungan
manajerial dan administratif. Guru akan memerlukan waktu lebih banyak,
program akan mempunyai dampak terhadap fasilitas mengajar, jadwal mengajar, dan
dukungan finansial dalam pengadaan alat dan sumber belajar. Keberhasilan team
teaching akan sangat bergantung kepada manajemen sekolah yang harus
mengambil langkah-langkah berikut (Liu, 2008):
- menciptakan kondisi kerja yang kondusif bagi guru dalam team untuk merencanakan pelajaran,
- membagi beban mengajar secara proporsional untuk guru dalam team,
- bersama-sama dengan semua guru menciptakan kegiatan yang dapat membangun ralasi yang harmonis dan produktif,
- membangun kesadaran yang kuat akan pentingnya kerjasama dalam menangani isu pendidikan dalam model team teaching agar terbentuk kondisi yang dapat mendukung keberhasilan program.
Tanpa dukungan yang terus-menerus dari manajemen sekolah, semangat model team
teaching bisa berubah menjadi frustasi dan implementasinya akan
menghasilkan pembelajaran yang tidak efektif. Menurut Elena (2006), efektivitas
seseorang dapat berkembang melalui dorongan dan dukungan orang lain. Setiap
orang dapat diyakinkan bahwa dia memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk
menyelesaikan tugas tertentu dan mencapai keberhasilan. Dukungan dan dorongan secara
verbal dapat meningkatkan usaha seseorang untuk mencapai tujuan, bukannya
menyerah ketika dia mengalami hambatan.
Menurut Lee (2008), dari hasil penelitiannya tentang team teaching,
rahasia keberhasilan terletak pada adanya sikap terbuka dari guru dan cara
menghindari konflik dalam team. Mereka melaksanakan perannya secara fleksibel,
kadang-kadang sebagai ‘asisten’ kadang kadang sebagai guru utama (pemimpin)
dengan tetap berpedoman kepada tujuan dan arah pembelajaran. Mereka percaya
bahwa setiap guru harus bersedia untuk saling mendengarkan dan menerima saran
satu sama lain, mempelajari masalah yang muncul, dan mencari win-win
solution. Dalam proses merencanakan kelas bilingual perlu disadari bahwa
pertemuan yang teratur antara guru bahasa Inggris dan guru mata pelajaran
mutlak harus dilaksanakan. Oleh sebab guru-guru dalam team harus membangun
komitmen yang berkelanjutan dan menyediakan waktu untuk merencanakan
kelas bilingual.








0 komentar:
Posting Komentar
Tulis komentar yang sopan yah..?? ^_^