Jumat, 02 Januari 2015

BILINGUAL



BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Pengertian Pendidikan Bilingual
Secara harfiah, kata bilingual berarti dwi bahasa atau dua bahasa. Pengertian bilingual dalam kamus bahasa Indonesia (2004: 67) mampu atau biasa memakai dua bahasa. Pembelajaran bilingual adalah pembelajaran yang menggunakan dua bahasa sebagai media pengantar pembelajaran. Pembelajaran dalam bahasa Inggris (bilingual) adalah pembelajaran yang materi pembelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya disampaikan dalam bahasa Inggris. Jadi, pendekatan pembelajaran bilingual merupakan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bilingual, yakni jalan yang digunakan oleh guru untuk menciptakan suasana yang memungkinkan siswa belajar dengan menggunakan pengantar dua bahasa. Hal ini bukan berarti belajar bahasa Inggris semata tetapi menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk mempelajari sebuah kurikulum.
Menurut Garcia (dalam Puspandari, 2008) pendidikan bilingual terdiri dari dua jenis, yaitu additive bilingualism dan subtractive bilingualism. Pendidikan bilingual dikatakan additive bilingualism jika bahasa ibu (mother languange) digunakan dan bahasa kedua (second languange) adalah sebagai tambahan. Sedangkan, pada subtractive bilingualism, guru mengajar dengan kedua bahasa, yaitu bahasa ibu (mother languange) dan bahasa kedua (second languange). Namun, pada bagian tertentu bahasa ibu berhenti digunakan, dan dilanjutkan oleh bahasa kedua, sehingga pada akhirnya siswa hanya menggunakan satu bahasa dalam pembelajaran (Lambert dalam Puspandari, 2008). Menurut Barker (dalam Puspandari, 2008), pendidikan bilingual yang mengarah pada additive bilingualism dikatakan kuat, sedangkan yang mengarah pada subtractive bilingualism dikatakan lemah.
Bentuk lain dari content-based instruction ialah program imersi di mana proses belajar mengajar sepenuhnya memakai bahasa Inggris. Keunggulan kelas bilingual ialah materi pelajaran ditulis dalam bahasa Inggris dan relevan dengan kurikulum atau kebutuhan akademik siswa. Dengan demikian pengajaran menjadi sangat bermakna dan dapat menjadi faktor pendorong motivasi belajar. Secara umum, kurikulum yang diterapkan di sekolah bilingual mengacu pada kurikulum Nasional. Dalam implementasinya, diperkaya dengan kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah sendiri yang berorientasi pada kurikulum internasional.
2.2.  Tujuan Pendidikan Bilingual
Pendidikan bilingual memiliki dua tujuan yang berbeda. Yang pertama adalah pengembangan Bahasa Inggris secara akademik untuk keberhasilan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dan yang kedua adalah melestarikan warisan bahasa. Program pendidikan yang baik akan mencapai kedua tujuan tersebut. Namun tujuan utama dalam pendidikan bilingual adalah memberikan bekal ketrampilan berbahasa kepada siswa yang mencakup ketrampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa selain bahasa ibu, disamping membelajarkan isi melalui ketrampilan berbahasa tersebut.
Djamarah, Syaiful Bahri (2002: 144) berpendapat bahwa Hal ini didasari oleh kenyataaan bahwa transfer literatur antar bahasa melalui pengembangan literatur bahasa Ibu merupakan sebuah jalan pintas untuk mempelajari literatur bahasa Inggris. Alasannya sederhana: Jika kita belajar untuk membaca dengan memahami makna pada setiap halaman, maka akan lebih mudah untuk belajar membaca jika kita memahami bahasa yang digunakan. Sekali kita dapat membaca, kita akan tetap dapat membaca, yakni kemampuan untuk mentransfer ke bahasa lain.
Menurut Arnyana (2008), tujuan yang ingin dicapai dengan pembelajaran bilingual adalah: (1) meningkatkan penguasaan materi pelajaran, (2) meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam forum ilmiah maupun non-ilmiah, (3) mampu mengakses pengetahuan ilmiah dari berbagai media internasional, serta (4) mampu berkomunikasi antar siswa baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut Roberts (1995), terdapat dua kemungkinan outcome dari pendidikan bilingual, yaitu  siswa mantap dengan first language dan memperoleh second language dan selanjutnya siswa kehilangan first language dalam proses memperoleh second language.
2.3.  Peranan Guru
Seorang guru kelas bilingual harus orang yang bilingual, fasih dalam dua bahasa. Chin dan Wigglesworth (2007) membedakan dua macam ketrampilan bilingual. Pertama, balanced bilingual, yaitu orang yang dapat menguasai dua bahasa secara sempurna dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam konteks sistem pendidikan Indonesia, kemampuan seperti ini sangat sulit untuk dikuasai. Yang kedua ialah dominant bilingual, yaitu orang yang dominan dalam salah satu bahasa. Dalam praktek, ketrampilan seperti ini tidak dapat diterapkan untuk membicarakan semua hal. Guru bahasa Inggris, misalnya, mungkin tidak mampu menerangkan masalah biologi dengan benar dalam bahasa Inggris karena bahasa yang lebih dikuasainya atau yang lebih dominan ialah bahasa Indonesia. Demikian juga halnya dengan orang asing yang menguasai bahasa Indonesia mungkin tidak mampu menerangkan masalah budaya mereka dalam bahasa Indonesia, mereka akan menggunakan bahasa Inggris karena bahasa ini yang lebih dominan.
Guru bilingual guru mempunyai tiga macam peran dalam menjalankan tugasnya: (a) sebagai praktisi, guru mempunyai tugas untuk mendesain dan mengatur proses belajar mengajar, memberi penjelasan masalah-masalah kebahasaan (bahasa Inggris), dan secara terus menerus mengembangkan kemampuan bahasa Inggris siswa. (b) sebagai perancang materi, guru mempunyai tugas untuk merencanakan PBM, memilih materi yang cocok dengan silabus, memodifikasi materi supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, atau membuat materi yang baru sama sekali jika materi yang siap pakai tidak ada. Dan (c) sebagai evaluator, guru mempunyai tugas untuk mengevaluasi efektivitas materi pelajaran dan melakukan evaluasi terhadap pemerolehan belajar siswa.
Ketiga peran tersebut di atas dapat dijalankan dengan baik jika bahasa Inggris merupakan bahasa pertama atau bahasa kedua, dan guru tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris karena mereka adalah penutur asli bahasa Inggris. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, bahasa Inggris adalah bahasa asing yang harus dipelajari dan diajarkan dengan model pendekatan yang berbeda dengan model pendekatan pembelajaran di negara-negara yang berbahasa Inggris di mana para guru tidak mempunyai masalah dengan bahasa pengantar.
Dalam menjalankan proses belajar mengajar, guru bilingual harus mempunyai dua macam pengetahuan kebahasaan, yaitu pengetahuan tentang istilah tehnis (technical vocabulary) dalam mata pelajaran tertentu dan pengetahuan tentang tata bahasa Inggris. Menerangkan konsep yang terkandung dalam istilah-istilah tehnis mungkin bukan merupakan masalah yang terlalu berat karena guru sudah mempunyai latar belakang ilmu yang diajarkan. Ini merupakan kekuatan bagi guru bilingual. Yang perlu harus dikembangkan ialah pengetahuan tentang tata bahasa dan ketrampilan menggunakan bahasa Inggris baik untuk keperluan umum (non-pedagogis) maupun untuk mengajarkan materi pelajaran (ketrampilan pedagogis). Bagaimanapun juga, mengajarkan suatu topik mata pelajaran dengan pengantar bahasa Inggris tidak bisa lepas dari pengajaran tata bahasa walaupun cara mangajarkannya tidak persis sama seperti mengajarkan tata bahasa dalam pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib (English for General Purposes) pada umumnya.
Dalam mengajar, guru bilingual akan selalu mengadakan interaksi verbal dengan siswa baik satu arah maupun dua arah. Dalam hubungan ini, ada berbagai fungsi bahasa yang perlu dikuasai dalam mengajarkan materi (content knowledge), misalnya saja: menjelaskan konsep, melaporkan kejadian tertentu, memberikan definisi, memberi instruksi, menjelaskan proses, menjelaskan klasifikasi, memberi contoh, menerangkan tabel, gambar, ilustrasi, atau grafik, membandingkan dua masalah, membuat kesimpulan, dll.(Gillet, 2007). Fungsi-fungsi bahasa seperti ini memerlukan transactional skills, yaitu ketrampilan untuk menyampaikan infromasi yang bersifat satu arah, dan interactional skills, yaitu  ketrampilan untuk melakukan interaksi bahasa dua arah, misalnya dalam diskusi walaupun dalam bentuk sederhana, atau dalam menjawab pertanyaan atau memberikan feedback (Yule, 1997). 
Dalam proses pembelajaran bahasa, dikenal dua macam feedback, yaitu feedback terhadap kesalahan tata bahasa (Doughty & Williams, 1998) dan feedback terhadap masalah makna komunikasi seperti yang terungkap dalam penelitian oleh Astika (2007).  Kedua macam feedback tersebut bisa juga dilakukan dalam bentuk tulis jika assessment terhadap hasil pembelajaran siswa dilakukan dalam bentuk tertulis, atau dalam bentuk dialog (Weisberg, 2006), di mana guru, selama proses belajar berlangsung,  berdialog dengan siswa agar siswa dapat menyelesaikan tugas. Sudah barang tentu guru harus memiliki ketrampilan bahasa Inggris tingkat lanjut.
Mengingat kondisi sumber daya guru yang mampu mengajar bilingual  saat ini, sangat sulit rasanya untuk mencapai tingkat kemampuan bilingual tertentu agar dapat mengajar kelas bilingual seperti yang diharapkan. Banyak hasil penelitian pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa secara umum penguasaan bahasa asing (Inggris) akan bisa maksimal jika dimulai sejak kecil, terutama dalam penguasaan ucapan. Orang dewasa, termasuk guru-guru  mata pelajaran yang harus belajar bahasa Inggris lagi melalui kursus atau pelatihan, akan sangat terpengaruh oleh sikap, motivasi, bakat, umur, dll, dan faktor-faktor tersebut akan secara signifikan dapat mempengaruhi hasil belajar.
Para guru tersebut akan dapat menerapkan proses pendidikan bilingual dan dapat mengimplementasikan hal-hal berikut ini:
a.       Guru dapat memotivasi siswa untuk berani berbicara bahasa kedua. Selain itu, guru beserta Kepala Sekolah dan tenaga administrasi bersama-sama menciptakan suatu lingkungan berbahasa Inggris yang baik.
b.      Guru memberikan tugas-tugas tertulis untuk meningkatkan pola pikir dan kemampuan siswa dalam menulis dan membaca.
c.       Menerapkan adaptasi dan strategi untuk menciptakan akses pada kemampuan siswa dalam menulis pemahaman konseptual.
Untuk memenuhi tuntutan guru menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam beberapa mata pelajaran telah mendorong sekolah untuk merancang berbagai program pelatihan bahasa Inggris untuk guru-guru. Mereka dikirim ke lembaga-lembaga pendidikan formal untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama beberapa bulan dengan harapan bahwa setelah menyelesaikan kursus mereka akan siap mengajar dengan bahasa Inggris. Ada juga sekolah yang mengundang pakar pendidikan bahasa Inggris untuk memberi pelatihan kepada guru-guru di sekolah secara reguler, di tengah-tengah kesibukan mereka mengajar.
2.4.  Model Kelas Bilingual Yang Dapat Dikembangkan
Perkembangan baru dalam system pendidikan nasional Indonesia. Perkembangan ini memerlukan pembaruan daya dukung berupa sarana dan prasarana pendidikan, sistem manajemen sekolah, dan   guru yang berkualitas yang dapat menguasai teknologi informasi. Oleh sebab itu perlu dirancang model pembelajaran yang  dapat mengakomodasi perkembangan teknologi agar pembelajaran dapat efektif dan kompetitif. Model ini disebut co-teaching atau  team teaching.
Model ini menunjukkan bahwa dalam kelas bilingual perlu ada dua orang guru, misalnya guru bahasa Inggris yang bertanggung jawab mengajarkan masalah-masalah kebahasaan (Inggris) dan guru Matematika yang bertanggung jawab mengajarkan substansi pelajaran – matematika. Bahan ajar dalam model seperti ini sudah tentu harus dalam bahasa Inggris.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, konsep-konsep matematika dapat diajarkan terlebih dahulu oleh guru Matematika dalam bahasa Indonesia dan beberapa kata dalam bahasa Inggris yang dikuasainya dengan baik. Sesudah itu guru bahasa Inggris mengajarkan masalah-masalah kebahasaan dalam bahasa Inggris yang diperlukan untuk memahami bahan ajar matematika dalam bahasa Inggris. Karena siswa sudah diajar konsep-konsep matematika, mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang pokok bahasan dan pengetahuan ini dapat membantu pemahaman mereka untuk mengetahui bahan tersebut dalam bahasa Inggris.  Dengan model seperti ini, kelemahan guru Matematika yaitu kurangnya kemampuan bahasa Inggris,  dapat dibantu oleh guru bahasa Inggris dan guru bahasa Inggris tidak perlu lagi mengajarkan konsep-konsep matematika. Dalam kondisi yang ada sekarang di mana guru mata pelajaran belum sepenuhnya dapat mengajar kelas bilingual secara mandiri, pendampingan guru bahasa Inggris dengan model ini sangat diperlukan. Model ini dapat membantu siswa menguasai substansi mata pelajaran dan bahasa Inggris secara bersamaan.
Keberhasilan dari model ini sudah tentu akan bergantung kepada banyak faktor. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa kerjasama kedua orang guru harus mulai dari pembahasan tentang kurikulum, desain silabus, seleksi dan atau adaptasi materi, dan proses belajar mengajar di kelas.  Setiap tahap dari pengembangan model ini harus disertai dengan evaluasi dengan mempertimbangkan konteks belajar (learning needs) dan tujuan belajar (target needs).
Liu (2008) Model ini dikembangkan di sekolah dasar di Cina dalam kelas-kelas bilingual. Guru yang terlibat dalam co-teaching ialah guru penutur asli berbahasa Inggris dan guru lokal. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, mereka bekerjasama mulai dari perencanaan pelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasi. Model ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Indonesia, untuk memperoleh guru penutur asli berbahasa Inggris sangat sulit. Namun demikian, kendala ini bisa diatasi dengan melibatkan guru bahasa Inggris yang ada di sekolah dengan mempertimbangkan masalah-masalah administratif dan manajerial sekolah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan team teaching (Liu, 2008). Dalam team teaching, guru-guru yang terlibat mempunyai tanggung jawab dan status yang sama. Secara bersama-sama mereka mendesain perencanaan mengajar, mengadakan evaluasi dan bertanggung jawab kepada semua siswa di kelas. Guru bahasa Inggris dalam team teaching tidak lagi dianggap sebagai asisten guru mata pelajaran, tetapi dianggap sebagai sumber pengetahuan, fasilitator, dan guru yang mempunyai status yang sama. Dengan kata lain, kedua guru secara efektif saling melengkapi satu sama lain sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing dalam proses belajar mengajar.
Model team teaching ini bisa berhasil hanya jika kedua guru memiliki ketrampilan dan hubungan kerja yang kuat, profesional, mempunyai rasa saling percaya, bersedia menyediakan waktu yang cukup untuk mewujudkan tujuan pengajaran. Guru yang terlibat dalam team teaching harus mempunyai pengalaman mengajar yang cukup. Mereka perlu memahami peran masing-masing di kelas, jika tidak, hal ini dapat mempengaruhi kenerja team dan dapat dianggap sebagai kompetisi antara guru dalam team, yang akhirnya dapat melemahkan semangat kerja. Team teaching harus dipahami sebagai usaha untuk meningkatkan kompetensi mengajar dan melengkapi kelemahan masing-masing sebagai guru kelas bilingual.
Strategi pelaksanaan team teaching harus juga dipersiapkan dengan seksama, antara lain:
a.       Persiapan
Dalam tahap ini, guru mata pelajaran dan guru bahasa Inggris membicarakan bagaimana cara mengajar siswa secara efektif. Diskusi difokuskan pertama-tama pada tingkat kemampuan siswa secara keseluruhan dalam kelas yang akan diajar, kekuatan dan kelemahan mereka, aspek apa yang perlu diperhatikan, masalah disiplin, dll. Guru dalam team harus menetapkan tujuan mengajar, menentukan topik bahasan untuk satu semester. Persiapan ini bisa memerlukan beberapa pertemuan agar setiap guru memahami apa yang menjadi target pembelajaran dan memahami ciri-ciri pengajaran dalam team, dan mengembangakan rasa percaya diri.
Model pengajaran ini juga memerlukan pertemuan dan diskusi secara teratur selama semester berjalan untuk merencanakan persiapan pengajaran. Oleh sebab itu sangat penting membuat jadwal yang teratur untuk mengadakan pertemuan dan merencanakan unit-unit pelajaran, antara lain menyangkut:
1.      Apa yang akan diajarkan
2.      Materi atau sumber belajar yang akan dipakai
3.      Peran dan tanggung jawab masing-masing guru
4.      Bagaimana mengevaluasi belajar siswa
5.      Bagaimana cara membantu siswa yang lemah dan perlu bantuan.
Masalah-masalah ini memerlukan diskusi mendalam agar peran dan tanggung jawab masing-masing guru menjadi jelas. Setiap guru harus mempunyai hak untuk mengutarakan pendapat dan memberikan kontribusi positif dalam membuat rencana pelajaran. Pada dasarnya, setiap guru dalam team perlu menyadari pentingnya toleransi,  adanya perbedaan, dan mencari jalan untuk membuat perencanaan yang bermanfaat bagi siswa.
b.      Pelaksanaan
Dalam implementasinya, model team teaching memerlukan dukungan manajerial dan administratif.  Guru akan memerlukan waktu lebih banyak, program akan mempunyai dampak terhadap fasilitas mengajar, jadwal mengajar, dan dukungan finansial dalam pengadaan alat dan sumber belajar. Keberhasilan team teaching akan sangat bergantung kepada manajemen sekolah yang harus mengambil langkah-langkah berikut (Liu, 2008):
  1. menciptakan kondisi kerja yang kondusif bagi guru dalam team untuk merencanakan pelajaran,
  2. membagi beban mengajar secara proporsional untuk guru dalam team,
  3. bersama-sama dengan semua guru menciptakan kegiatan yang dapat membangun ralasi yang harmonis dan produktif,
  4. membangun kesadaran yang kuat akan pentingnya kerjasama dalam menangani isu pendidikan dalam model team teaching agar terbentuk kondisi yang dapat mendukung keberhasilan program.
Tanpa dukungan yang terus-menerus dari manajemen sekolah, semangat model team teaching bisa berubah menjadi frustasi dan implementasinya akan menghasilkan pembelajaran yang tidak efektif. Menurut Elena (2006), efektivitas seseorang dapat berkembang melalui dorongan dan dukungan orang lain. Setiap orang dapat diyakinkan bahwa dia memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tertentu dan mencapai keberhasilan. Dukungan dan dorongan secara verbal dapat meningkatkan usaha seseorang untuk mencapai tujuan, bukannya menyerah ketika dia mengalami hambatan.
Menurut Lee (2008), dari hasil penelitiannya tentang team teaching, rahasia keberhasilan terletak pada adanya sikap terbuka dari guru dan cara menghindari konflik dalam team. Mereka melaksanakan perannya secara fleksibel, kadang-kadang sebagai ‘asisten’ kadang kadang sebagai guru utama (pemimpin) dengan tetap berpedoman kepada tujuan dan arah pembelajaran. Mereka percaya bahwa setiap guru harus bersedia untuk saling mendengarkan dan menerima saran satu sama lain, mempelajari masalah yang muncul, dan mencari win-win solution. Dalam proses merencanakan kelas bilingual perlu disadari bahwa pertemuan yang teratur antara guru bahasa Inggris dan guru mata pelajaran mutlak harus dilaksanakan. Oleh sebab guru-guru dalam team harus membangun komitmen yang berkelanjutan dan  menyediakan waktu untuk merencanakan kelas bilingual.

0 komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar yang sopan yah..?? ^_^