Jumat, 02 Januari 2015

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1                 Definisi Belajar, Kesulitan Belajar dan Diagnosis Kesulitan Belajar
Setiap orang baik disadari atau tidak, selalu melaksanakan kegiatanbelajar. Kegiatan harian yang dimulai dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali akan selalu diwarnai oleh kegiatan belajar. Pengertian belajar menurut Morgan et.al (1986:140) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relative permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Senada dengan pernyataan tersebut Gage dan Berliner (1983:252) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Tidak berbeda jauh dengan pendapat sebelumnya Slavin (1994:3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.
 Sedangkan menurut Gagne (1977:3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Winkel (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :
1.      Perubahan Intensional, Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.
2.      Perubahan Positif dan aktif, Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan.
Namun pada kenyataannya tidak semua siswa dapat memperoleh hasil yang maksimal setelah belajar, didapati bahwa sebagian dari mereka masih tetap saja tidak mengalami perubahan pada dirinya meskipun mereka selalu mengikuti proses belajar. Diduga ketidaksesuaian hasil belajar tersebut disebabkan karena kegagalan dari salah satu factor-factor yang mempengaruhi perilaku belajar.
Dollar dan Miller (Loree,1970:136)  menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar itu dipengaruhi oleh 4 hal yaitu :
1)      adanya motivasi
2)      adanya perhatian dan mengetahui sasaran
3)      adanya usaha
4)      adanya evaluasi dan pemantapan hasil
Apabila siswa yang bersangkutan mengalami masalah dengan keempat factor tersebut maka dimungkinkan siswa tersebut akan mengalami kesulitan belajar.
Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya. Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Untuk mengetahui kesulitan belajar yang sedang dialami oleh peserta didik kita dapat melakukan diagnosis kesulitan belajar. Menurut Thorndike dan Hagen, sebagaimana dikutip oleh Abin (2004 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness , disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya (symtomps) ; study yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalaha-kesalahan dan sebagainya yang esensial ; keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal .
 Dengan mengaitkan pengertian kesulitan belajar dan diagnosis maka  menurut Abin (2004 : 309) diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/ informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya. Seorang siswa dipandang mengalami kesulitan belajar jika yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan ukuran dan criteria yang telah ditentukan. Burton dalam Abin (2004 : 308)”.
2.2 Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2004 : 327), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
1.      Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
1.      Faktor kejiwaan, antara lain :
1)      minat terhadap mata pelajaran kurang;
2)      motif belajar rendah;
3)      rasa percaya diri kurang;
4)      disiplin pribadi rendah;
5)      sering meremehkan persoalan;
6)      sering mengalami konflik psikis;
7)      integritas kepribadian lemah.
2.      Faktor kejasmanian, antara lain :
1)      keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
2)      adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
3)      adanya gangguan pada fungsi indera;
4)      kelelahan secara fisik.
2.      Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar siswa. Faktor dari luar siswa (situasi sekolah dan masyarakat) :
1.      Kurikulum yang seragam , bahan dan buku yang tidak sesuai dengan tingkat  kematangan dan perbedaan individu .
2.      Ketidaksesuaian standar administrative (sistem pengajaran) , penilaian , pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar-mengajar .
3.      Terlalu berat beban belajar siswa dan/atau mengajar guru .
4.      Terlalu besar populsi siswa didalam kelas , terlalu menuntut banyak kegiatan di luar .
5.      Terlalu sering pindah sekolag atau program , tinggal kelas .
6.      Kelemahan sistem belajar-mengajar pada tingkat pendidikan (dasar/asal) .
7.      Kelemahan dari kondisi rumah tangga (pendidikan , status sosial ekonomis , keutuhan/keluarga , besarnya anggota keluarga , tradisi dan kultur keluarga , ketentraman dan keamanan sosial psikologis ) .
8.      Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler .
9.      Kekurangan makan (gizi , kalori ) .
2.3                 Ciri-ciri Siswa Mngalai Kesulitan Belajar
Burton (1952:622-624) mendefinisikan sekaligus bisa dilihat ciri seorang siswa mengalami kesulitan belajar bila siswa menunjukan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya . Kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut :
1.      Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertetu, seperti yang telah ditetapkan oleh oarang dewasa atau guru (critreon refrenced). Atau siswa yang bersangkutan tidak bisa memenuhi KKM atau passing grade, kasus semacam ini dinamakn lower group
2.      Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuan: intelegensi, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya kasus siswa seperti ini dogolongkan kedalm under archievers.
3.      Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tuga-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu. Kasus seperti ini digolongkan ke dalam slow learnes.
4.      Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat (prerequisite) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus seperti ini dapat digolongkan ke dalam slow learnes atau belum matang (immature) sehingga mungkin harus menjadi pengulang (repeaters) pelajaran.
2.4                 Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley (1956:332-341) menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the levels of diagnosis) itu sebagai berikut :
1.      Siapa siswa yang mengalami gangguan ?
2.      Dimanakah kelemahan-kelemahan itu dapat dialokasikan ?
3.      Mengapa kelemahan itu terjadi ?
4.      Penyembuhan apakah yang disarankan ?
5.      Bagaimanakah kelemahan itu dapat dicegah ?
Dari skema tersebut , tampak bahwa keeempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan (corrective diagnosis) atau penyembuhan (curative) . Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan (preventive) .
Burton (1952:640-652) menggariskan berbeda , yaitu berdasarkan kepada teknik dan instumen yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut .
1.      General diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku , seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar . Sasarannya , untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu .
2.      Analistic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic .Sasarannya , untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut .
3.      Psycological diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
a.       Observasi
b.      Analisis karya tulis
c.       Analisi proses dan respon lisan
d.      Analisis berbagai catatan objektif
e.       Wawancara
f.       Pendekatan laboratories dan klinis
g.      Studi Kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan untuk memehami karakteristik dan fakor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.
Dari kedua model pola pendekatan diatas kita dapat menjabarkannya kedalam suatau pola pendekatan operasional sebagai berikut:
Input 1: informasi / data prestasi dan proses belajar
Identifikasi kasus: menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Input 2:  informasi / data tes / analisis diagnostic
Identifikasi masalah: menandai dan melokalisasi dimana letaknya kesulitan
Input 3: informasi / data diagnostic psikologis
1.      Identifikasi faktor penyebab kesulitan: menandai jenis dan karakteristik kesulitan dengan faktor penyebabnya.
2.      Prognosis: mengambil kesimpulan dan keputusan serta meramalkan kemungkinan penyembuhan.
3.      Rekomendasi/Refferal: membuat saran alternative pemecahannya. .
2.5                 Macam-Macam Kesulitan Belajar
1.      Learning disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
2.      Learning disfunction adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
3.      Underachiever merupakan siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
4.      Slow learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5.      Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala.
2.6                 Upaya Penanganan dari Segi Teoritis
Menurut Abin (2004 : 331- 338 ) sebagai berikut dalam memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya :
1.      Untuk Kasus Kelompok
Jika mayoritas siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus ( minimum acceptable performance ), kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar. Begitu juga dengan kelas yang bernilai prestasi kelas di bawah kelas yang setaraf, kelas ini juga patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar.
Jika fakta di atas ternyata terjadi pada banyak bidang studi, dapat diduga bahwa letak kelenahannya bersifat integral ( menyeluruh ) yang menyangkut keseluruhan aspek kurikulum dan system pengajaran di kelas / sekolah yang bersangkutan, tetapi kalau kasus tersebut hanya terjadi pada bidang studi tertentu maka kelemahannya dapat dilokalisasikan pada system intruksional khusus yang dipergunakan oleh guru bidang studi.
Estimasi ( perkiraan ) dan saran kemungkinan cara mengatasi kasus di atas dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mendefinisikan
a.       jenis dan sumber penyebab masalahnya,
b.      karakteristik berat / ringannya masalah. Sampai saat ini sumber penyebab masalahnya dapat dikatakan dari luar diri diri siswa karena yang mengalami kesulitan hampir semua siswa dalam satu kelas sedangkan karakteristik masalahnya adalah sangat mungkin diatasi, berdasarkan gejala – gejala khas yang menyangkutkan kelompok.
Sedangkan kemungkinan cara mengatasi adalah dengan program pengajaran khusus ( pengayaan ) jika kelemahannya bersumber dari kurikulum. Jika kelemahannya bersumber dari system evaluasi, maka kemungkinan cara mengatasinya dengan pengembangan system penilaian yang menggairahkan siswa. Sedangkan jika kelemahan terdapat pada faktor kondisional, kemungkinan dapat diatasi dengan pemenuhan buku, laboratorium dan sebagainya.
2.           Untuk Kasus Individu
Jika ternyata hanya sebagaian kecil dari siswa (± 5 – 25 % ) yang angka prestasinya tidak memadai batas lulus dan atau lebih kecil dari rata – rata nilai prestasi kelas, kita dapat langsung menyimpulkan bahwa kasus kesulitan belajar itu bersifat individu.
Permasalahannya pun dapat disimpulkan lebih lanjut :
1.         Bersifat menyeluruh, jika ternyata kelemahannya terjadi pada seluruh atau sebagaian besar bidang studi yang diikutinya.
2.         Bersifat segmental atau sektoral, jika ternyata kelemahannya terjadi pada sebagaian bidang studi yang diikutinya.
3.      Bersifat personal, jika ternyata kelemahan itu bukan dalam segi prestasi studi tetapi segi proses atau penyesuaian dirinya.
Sedangkan sumber dan faktor penyebabnya dapat berupa faktor organismik siswa yang bersangkutan, sukar mengubah diri dengan pola – pola kebiasaan belajar yang lebih sesuai, sikap menyepelekan system penilaian partisipasi dan belum menguasai pengetahuan dasar. Faktor dari luar diri siswa juga dapat berpengaruh pada hal ini, contohnya hampir sama pada kasus kelompok yang sebelumnya telah dijelaskan.
Untuk mengatasi kasus individu ini, sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang lebih muda diatasi dan mana yang lebih sulit. Jika faktor berpengaruh adalah faktor hereditas / gen maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hasil. Yang diperlukan untuk siswa semacam ini adalah penyaluran / penjurusan kepada program pendidikan tertentu yang sesuai dengan kemampuannya.
Jika kelemahan itu bersumber dari aspek organismik lainnya, seperti kebiasaan belajar, minat dan lingkungan, maka penyembuhan secara metodologis dapat diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relatif lama. Untuk kesulitan belajar yang dialami oleh individual kita dapat membantu dengan adanya progam remedial dan konseling individu.


DAFTAR PUSTAKA
Makmun, Abin. S. 2004. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rifa’i, Achmad dan Catharina. 2012. Psikologi pendidikan. Semarang: UPT
 UNNES PRESS

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Sutoyo, Anwar. 2012. Pemahaman Individu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT   Remaja Rosdakarya

Walgito, Bimo. 22010. Bimbingan Konseling Studi dan Karier. Yogyakarta: Andi

0 komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar yang sopan yah..?? ^_^