UNNES

Universitas Negeri Semarang adalah salah satu Universitas Negeri yang ada di daerah Semarang Provinsi Jawa Tengah.

Fakultas Ilmu Pendidikan

fakultas ilmu pendidikan memiliki beberapa jurusan di dalamnya dan merupakan fakultas tertua yang ada di UNNES

Konservasi

konservasi menjadi identitas universitas yang mengusung kecintaan terhadap lingkungan hidup yang berlandaskan tujuh pilar konservasi

Kawasan UNNES

lingkungan yang sehat, indah, dan nyaman menjadi prioritas lingkungan yang ada di kawasan UNNES

Jumat, 02 Januari 2015

My Profil

Saya terlahir 19 tahun yang lalu dari kedua orang tua yang begitu istimewa, nama saya Lusyawati Wahyu Priyono lahir di sragen 21 januari 1995. sekarang saya sedang menempuh study di semarang yaitu di Universitas Negeri Semarang, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, semester 3. suatu kebanggaan, saya dapat menjadi bagian dari UNNES yang mengusung konservasi sebagai identitas kampus. Blog ini, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pencari materi untuk tugas kuliah. counseling yes we can !!

BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR



BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL

2.1  Pengertian, Tujuan, Asas, Manfaat Bimbingan dan Konseling Karir
2.1.1        Pengertian Bimbingan dan Konseling Karir
Bimbingan karir ( vocational guidance ) merupakan salah satujenis bimbingan yang berusaha membantu siswa dalam memecahkan masalah karir untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya, baik pada waktu itu maupun masa yang akan datang. ( Anas, 2010 : 115). Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan jabatan, tetapi mempunyai arti luas yaitu memberikan bimbingan agar siswa dapat memasuki kehidupan, tata hidup dan kejadian dalam kehidupan dan mempersiapkan diri dari kehidupan sekolah menuju dunia kerja. Menurut Donald D. Super (1975) mengartikan bimbingan karir sebagai suatu proses membantu pribadi untuk mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta perannya dalam dunia kerja.
 Bimbingan Bimbingan karir ialah proses membantu sseorang untuk mengerti dan menerima gambaran tentang diri pribadinya dan gambaran tentang dunia kerja diluar dirinya, mempertemukan gambaran-gambaran tentang diri tersebut dengan dunia kerja itu untuk pada akhirnya dapat memilih biang pekerjaan, menyiapakan diri untuk bidang pekerjaan, memasuki pekerjaan, membina karir dalam bidang tersebut (Rochman, Natawidjaja, 1980 : 1)

2.2.2        Tujuan Bimbingan Karir
Menurut Moh Surya, 1981 : 3 - 4 tujuan bimbingan karir adalah sebagai berikut :
1.      Dapat menilai dan memahami dirinya terutama mengenai potensi dasar, minat, sikap, dan kecakapan.
2.      Mempelajari dan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dan minatnya.
3.      Mempelajari dan mengetahui tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari suatu pekerjaan.
4.      Memiliki sikap positif dan sehat terhadap dunia pekerjaan.
5.      Memperoleh pengerahan mengenai semua jenis pekerjaan yang ada di lingkungannya.
6.      Mempelajari dan mengetahui jenis-jenis pendidikan atau latihan yang dapat diperlukan untuk suatu pekerjaan tertentu.
7.      Dapat memberikan penilaian pekerjaan secara tepat
Menurut Bimo Walgito 2010 : 202 secara rinci tujuan dari bimbingan karir adalah :
1.      Dapat memahami dan menilai dirinya sendiri terutama yang kaitan dengan potensi yang ada dalam dirinya mengenai kemampuan, minat, bakat, sikap, dan cita-citanya.
2.      Menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada dalam dirinya dan yang ada dalam masyarakat.
3.      Mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan bagi suatu bidang tertentu serta memahami hubungan usaha dirinya yang sekarang dengan masa depannya.
4.      Menemukan hambatan-hambatan yang mungkin timbul, yang disebebkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan serta mencari jalan untuk dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
5.      Dapat merencanakan masa depannya, serta menemukan karir dan kehidupannya yang serasi atau sesuai.

2.2.3        Asas Bimbingan dan Konseling Karir
Dalam pelaksanaannya bimbinngan karir memegang asas-asas sebagai berikut :
1.      Pelaksanann bimbingan karir disekolah harus didasarkan kepada hasil penelusuran yang cermat terhadap kemampuan dan minat siswa serta pola dan jenis karir dalam masyarakat.
2.      Pemilihan dan penentuan jenis bidang karir didasarkan pada keputusan siswa sendiri melalui penelusuran kemampuan dan minat serta pengenalan karir dalam masyarakat, baik karir yang telah berkembang maupun karir yang mungkin dapat dikembangkan dalam masyarakat.
3.      Pelaksanan bimbingan karir harus merupakan suatu proses yang berjalan terus mengikuti pelaksanaan progam pendidikan di sekolah dan juga sebaiknya setelah tamat sekolah.
4.      Pelaksanann bimbingan karir harus merupakan perpaduan pendayagunaan setinggi-tingginya potensi siswa dan potensi lingkungan.
5.      Pelaksanann bimbingan karir jangan sampai menimbulkan tambahan beban pembiayaan yang berlebihan.
6.      Pelaksanaan bimbingan karir harus menjalin hubungan kerja sama antara sekolah dengan unsure-unsur diluar sekolah dan bersifat saling menunjang fungsi masing-masing, serta mengarah kepada pencapaian tujuan pembinaan generasi muda yang diharapkan.

2.2.4        Manfaat Bimbingan dan Konseling Karir
1.      Bimbingan karir dapat memberikan nilai-nilai pribadi dan sosial kepada individu.
2.      Adanya kebutuhan individu untuk bekerja setelah ia menyelesaikan sekolah.
3.      Bimbingan karir dapat dipakai sebagai alat untuk mengetahui potensi dari individu yang bersangkutan.
4.      Mengurangi kemungkinan ketidakcocokkan dalam pekerjaan.
5.      Bimbingan karir lebih menitikberatkan pada perencanaan kehidupan.

2.2.5        Standar Prosedur  Operasional (SPO) Kegiatan
“Standar prosedur operasional kegiatan dalam penyusunan program meliputi 4 tahap yaitu perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian” (Supriyo, 2010:77). Secara rinci tahap-tahap tersebut sebagai berikut:
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan hal-hal yang harus dikerjakan pengembang program adalah sebagai berikut:
1)      Meneliti kebutuhan konseli
2)      Mengklasifikasikan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
3)      Membuat batasan jenis program yang akan dibuat
4)      Meneliti jenis-jenis program yang sudah ada
5)      Mengupayakan dukungan dan kerjasama dari staf sekolah, orang tua dan masyarakat
6)      Menentukan prioritas program
2.      Penyusunan program
Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pengembang program adalah:
1)      Merumuskan tujuan-tujuan program secara operasional dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang dapat diukur hasilnya
2)      Memilih strategi pelaksanaan program yang sesuai dengan kondisi dan situasi sekolah yang bersangkutan
3)      Menjabarkan komponen-komponen program
4)      Menganalisis kemampuan staf sekolah
5)      Mengadakan peningkatan kemampuan atau pengembangan staf pelaksana program
3.      Pelaksanaan program
Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi sumber-sumber yang diperlukan yang meliputi manusia, sarana, prasarana, dan waktu
2)      Membuat instrumen pengukuran keberhasilan pelaksanaan program
3)      Melaksanakan program dan menyesuaikan program dengan pelaksanaan program-program sekolah yang lain
4)      Mengadakan perubahan atau perbaikan program berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan
4.      Penilaian program
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah:
1)        Menentukan komponen-komponen program yang akan dinilai
2)        Memilih model penilaian program yang akan digunakan
3)        Memilih instrumen penilaian
4)        Menentukan prosedur pengumpulan data
5)        Menciptakan sistem monitoring pelaksanaan program
6)        Menyajikan data, analisis, dan laporan hasil penilaian.
Karena praktik bimbingan karir ini menggunakan layanan bimbingan klasikal, maka secara garis besar perencanaan pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1.      dentifikasi Kebutuhan
Supaya mengetahui kebutuhan dan masalah individu, dapat dilakukan berbagai instrumen, seperti menggunakan alat ungkap masalah baik menggunakan cek list ataupun kuesioner. Berdasarkan pengumpulan data tersebut kemudian ditabulasi setelah itu dianalisis kebutuhan atau masalah apa saja yag menimpa individu tersebut. Berdasarkan hasil analisis ini selanjutnya disusun perencanaan program bimbingan dan konseling.
2.      Menentukan Karakteristik Sekolah
Program yang akan disusun harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah, seperti apakah sekolah tersebut, negeri atau swasta sekolah tersebut, berada di desa atau kota sekolah tersebut, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja sangat penting guna layanan bimbingan dan konseling tersebut dapat sesuai dengan keadaan sekolah.
3.      Menentukan Skala Prioritas
Berdasarkan analisis kebutuhan di atas, masalah yang bersifat penting dan mendesak perlu mendapatkan perhatian khusus untuk segera mendapatkan layanan bombingan dan konseling.
4.      Menentukan Program Tahunan
Program tahunan yaitu keseluruhan layanan bimbingan dan konseling yang akan diberikan selama setahun. Program ini merupakan jabaran secara rinci dari serangkaian layanan bimbingan dan konseling yang menjadi tanggung jawabnya.
5.      Menentukan Program Semesteran
Program semesteran didasarkan pada program tahunan sehingga dapat diketahui dan direncanakan kegiatan apa yang akan dilakukan selama satu semester.
6.      Menentukan Program Bulanan, Mingguan, dan Harian.
Program ini mengacu pada program yang sudah dijabarkan dalam program tahunan dan semesteran. Sehingga akan tampak jelas apa yang dilakukan setiap harinya.

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1                 Definisi Belajar, Kesulitan Belajar dan Diagnosis Kesulitan Belajar
Setiap orang baik disadari atau tidak, selalu melaksanakan kegiatanbelajar. Kegiatan harian yang dimulai dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali akan selalu diwarnai oleh kegiatan belajar. Pengertian belajar menurut Morgan et.al (1986:140) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relative permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Senada dengan pernyataan tersebut Gage dan Berliner (1983:252) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Tidak berbeda jauh dengan pendapat sebelumnya Slavin (1994:3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.
 Sedangkan menurut Gagne (1977:3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Winkel (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :
1.      Perubahan Intensional, Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.
2.      Perubahan Positif dan aktif, Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan.
Namun pada kenyataannya tidak semua siswa dapat memperoleh hasil yang maksimal setelah belajar, didapati bahwa sebagian dari mereka masih tetap saja tidak mengalami perubahan pada dirinya meskipun mereka selalu mengikuti proses belajar. Diduga ketidaksesuaian hasil belajar tersebut disebabkan karena kegagalan dari salah satu factor-factor yang mempengaruhi perilaku belajar.
Dollar dan Miller (Loree,1970:136)  menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar itu dipengaruhi oleh 4 hal yaitu :
1)      adanya motivasi
2)      adanya perhatian dan mengetahui sasaran
3)      adanya usaha
4)      adanya evaluasi dan pemantapan hasil
Apabila siswa yang bersangkutan mengalami masalah dengan keempat factor tersebut maka dimungkinkan siswa tersebut akan mengalami kesulitan belajar.
Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya. Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Untuk mengetahui kesulitan belajar yang sedang dialami oleh peserta didik kita dapat melakukan diagnosis kesulitan belajar. Menurut Thorndike dan Hagen, sebagaimana dikutip oleh Abin (2004 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness , disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya (symtomps) ; study yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalaha-kesalahan dan sebagainya yang esensial ; keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal .
 Dengan mengaitkan pengertian kesulitan belajar dan diagnosis maka  menurut Abin (2004 : 309) diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/ informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya. Seorang siswa dipandang mengalami kesulitan belajar jika yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan ukuran dan criteria yang telah ditentukan. Burton dalam Abin (2004 : 308)”.
2.2 Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2004 : 327), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
1.      Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
1.      Faktor kejiwaan, antara lain :
1)      minat terhadap mata pelajaran kurang;
2)      motif belajar rendah;
3)      rasa percaya diri kurang;
4)      disiplin pribadi rendah;
5)      sering meremehkan persoalan;
6)      sering mengalami konflik psikis;
7)      integritas kepribadian lemah.
2.      Faktor kejasmanian, antara lain :
1)      keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
2)      adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
3)      adanya gangguan pada fungsi indera;
4)      kelelahan secara fisik.
2.      Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar siswa. Faktor dari luar siswa (situasi sekolah dan masyarakat) :
1.      Kurikulum yang seragam , bahan dan buku yang tidak sesuai dengan tingkat  kematangan dan perbedaan individu .
2.      Ketidaksesuaian standar administrative (sistem pengajaran) , penilaian , pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar-mengajar .
3.      Terlalu berat beban belajar siswa dan/atau mengajar guru .
4.      Terlalu besar populsi siswa didalam kelas , terlalu menuntut banyak kegiatan di luar .
5.      Terlalu sering pindah sekolag atau program , tinggal kelas .
6.      Kelemahan sistem belajar-mengajar pada tingkat pendidikan (dasar/asal) .
7.      Kelemahan dari kondisi rumah tangga (pendidikan , status sosial ekonomis , keutuhan/keluarga , besarnya anggota keluarga , tradisi dan kultur keluarga , ketentraman dan keamanan sosial psikologis ) .
8.      Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler .
9.      Kekurangan makan (gizi , kalori ) .
2.3                 Ciri-ciri Siswa Mngalai Kesulitan Belajar
Burton (1952:622-624) mendefinisikan sekaligus bisa dilihat ciri seorang siswa mengalami kesulitan belajar bila siswa menunjukan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya . Kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut :
1.      Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertetu, seperti yang telah ditetapkan oleh oarang dewasa atau guru (critreon refrenced). Atau siswa yang bersangkutan tidak bisa memenuhi KKM atau passing grade, kasus semacam ini dinamakn lower group
2.      Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuan: intelegensi, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya kasus siswa seperti ini dogolongkan kedalm under archievers.
3.      Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tuga-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu. Kasus seperti ini digolongkan ke dalam slow learnes.
4.      Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat (prerequisite) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus seperti ini dapat digolongkan ke dalam slow learnes atau belum matang (immature) sehingga mungkin harus menjadi pengulang (repeaters) pelajaran.
2.4                 Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley (1956:332-341) menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the levels of diagnosis) itu sebagai berikut :
1.      Siapa siswa yang mengalami gangguan ?
2.      Dimanakah kelemahan-kelemahan itu dapat dialokasikan ?
3.      Mengapa kelemahan itu terjadi ?
4.      Penyembuhan apakah yang disarankan ?
5.      Bagaimanakah kelemahan itu dapat dicegah ?
Dari skema tersebut , tampak bahwa keeempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan (corrective diagnosis) atau penyembuhan (curative) . Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan (preventive) .
Burton (1952:640-652) menggariskan berbeda , yaitu berdasarkan kepada teknik dan instumen yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut .
1.      General diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku , seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar . Sasarannya , untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu .
2.      Analistic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic .Sasarannya , untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut .
3.      Psycological diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
a.       Observasi
b.      Analisis karya tulis
c.       Analisi proses dan respon lisan
d.      Analisis berbagai catatan objektif
e.       Wawancara
f.       Pendekatan laboratories dan klinis
g.      Studi Kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan untuk memehami karakteristik dan fakor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.
Dari kedua model pola pendekatan diatas kita dapat menjabarkannya kedalam suatau pola pendekatan operasional sebagai berikut:
Input 1: informasi / data prestasi dan proses belajar
Identifikasi kasus: menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Input 2:  informasi / data tes / analisis diagnostic
Identifikasi masalah: menandai dan melokalisasi dimana letaknya kesulitan
Input 3: informasi / data diagnostic psikologis
1.      Identifikasi faktor penyebab kesulitan: menandai jenis dan karakteristik kesulitan dengan faktor penyebabnya.
2.      Prognosis: mengambil kesimpulan dan keputusan serta meramalkan kemungkinan penyembuhan.
3.      Rekomendasi/Refferal: membuat saran alternative pemecahannya. .
2.5                 Macam-Macam Kesulitan Belajar
1.      Learning disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
2.      Learning disfunction adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
3.      Underachiever merupakan siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
4.      Slow learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5.      Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala.
2.6                 Upaya Penanganan dari Segi Teoritis
Menurut Abin (2004 : 331- 338 ) sebagai berikut dalam memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya :
1.      Untuk Kasus Kelompok
Jika mayoritas siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus ( minimum acceptable performance ), kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar. Begitu juga dengan kelas yang bernilai prestasi kelas di bawah kelas yang setaraf, kelas ini juga patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar.
Jika fakta di atas ternyata terjadi pada banyak bidang studi, dapat diduga bahwa letak kelenahannya bersifat integral ( menyeluruh ) yang menyangkut keseluruhan aspek kurikulum dan system pengajaran di kelas / sekolah yang bersangkutan, tetapi kalau kasus tersebut hanya terjadi pada bidang studi tertentu maka kelemahannya dapat dilokalisasikan pada system intruksional khusus yang dipergunakan oleh guru bidang studi.
Estimasi ( perkiraan ) dan saran kemungkinan cara mengatasi kasus di atas dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mendefinisikan
a.       jenis dan sumber penyebab masalahnya,
b.      karakteristik berat / ringannya masalah. Sampai saat ini sumber penyebab masalahnya dapat dikatakan dari luar diri diri siswa karena yang mengalami kesulitan hampir semua siswa dalam satu kelas sedangkan karakteristik masalahnya adalah sangat mungkin diatasi, berdasarkan gejala – gejala khas yang menyangkutkan kelompok.
Sedangkan kemungkinan cara mengatasi adalah dengan program pengajaran khusus ( pengayaan ) jika kelemahannya bersumber dari kurikulum. Jika kelemahannya bersumber dari system evaluasi, maka kemungkinan cara mengatasinya dengan pengembangan system penilaian yang menggairahkan siswa. Sedangkan jika kelemahan terdapat pada faktor kondisional, kemungkinan dapat diatasi dengan pemenuhan buku, laboratorium dan sebagainya.
2.           Untuk Kasus Individu
Jika ternyata hanya sebagaian kecil dari siswa (± 5 – 25 % ) yang angka prestasinya tidak memadai batas lulus dan atau lebih kecil dari rata – rata nilai prestasi kelas, kita dapat langsung menyimpulkan bahwa kasus kesulitan belajar itu bersifat individu.
Permasalahannya pun dapat disimpulkan lebih lanjut :
1.         Bersifat menyeluruh, jika ternyata kelemahannya terjadi pada seluruh atau sebagaian besar bidang studi yang diikutinya.
2.         Bersifat segmental atau sektoral, jika ternyata kelemahannya terjadi pada sebagaian bidang studi yang diikutinya.
3.      Bersifat personal, jika ternyata kelemahan itu bukan dalam segi prestasi studi tetapi segi proses atau penyesuaian dirinya.
Sedangkan sumber dan faktor penyebabnya dapat berupa faktor organismik siswa yang bersangkutan, sukar mengubah diri dengan pola – pola kebiasaan belajar yang lebih sesuai, sikap menyepelekan system penilaian partisipasi dan belum menguasai pengetahuan dasar. Faktor dari luar diri siswa juga dapat berpengaruh pada hal ini, contohnya hampir sama pada kasus kelompok yang sebelumnya telah dijelaskan.
Untuk mengatasi kasus individu ini, sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang lebih muda diatasi dan mana yang lebih sulit. Jika faktor berpengaruh adalah faktor hereditas / gen maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hasil. Yang diperlukan untuk siswa semacam ini adalah penyaluran / penjurusan kepada program pendidikan tertentu yang sesuai dengan kemampuannya.
Jika kelemahan itu bersumber dari aspek organismik lainnya, seperti kebiasaan belajar, minat dan lingkungan, maka penyembuhan secara metodologis dapat diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relatif lama. Untuk kesulitan belajar yang dialami oleh individual kita dapat membantu dengan adanya progam remedial dan konseling individu.


DAFTAR PUSTAKA
Makmun, Abin. S. 2004. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rifa’i, Achmad dan Catharina. 2012. Psikologi pendidikan. Semarang: UPT
 UNNES PRESS

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Sutoyo, Anwar. 2012. Pemahaman Individu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT   Remaja Rosdakarya

Walgito, Bimo. 22010. Bimbingan Konseling Studi dan Karier. Yogyakarta: Andi