BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1
Definisi Belajar, Kesulitan Belajar dan Diagnosis
Kesulitan Belajar
Setiap orang baik disadari
atau tidak, selalu melaksanakan kegiatanbelajar. Kegiatan harian yang dimulai
dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali akan selalu diwarnai oleh
kegiatan belajar. Pengertian belajar menurut Morgan et.al (1986:140) menyatakan
bahwa belajar merupakan perubahan relative permanen yang terjadi karena hasil
dari praktik atau pengalaman. Senada dengan pernyataan tersebut Gage dan
Berliner (1983:252) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu
organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Tidak berbeda jauh
dengan pendapat sebelumnya Slavin (1994:3) menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.
Sedangkan menurut Gagne (1977:3) menyatakan
bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang
berlangsung selama periode waktu tertentu dan perubahan perilaku itu tidak
berasal dari proses pertumbuhan. Winkel
(1997:193) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai
suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan
nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Belajar
dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan
perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar
memiliki ciri-ciri perwujudan
yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :
1.
Perubahan Intensional, Perubahan dalam proses
berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja
dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya,
seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.
2.
Perubahan Positif dan
aktif, Positif
berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai
dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari
sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya
usaha dari siswa yang bersangkutan.
Namun pada kenyataannya tidak semua siswa dapat
memperoleh hasil yang maksimal setelah belajar, didapati bahwa sebagian dari
mereka masih tetap saja tidak mengalami perubahan pada dirinya meskipun mereka
selalu mengikuti proses belajar. Diduga ketidaksesuaian hasil belajar tersebut
disebabkan karena kegagalan dari salah satu factor-factor yang mempengaruhi
perilaku belajar.
Dollar dan Miller (Loree,1970:136) menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar
itu dipengaruhi oleh 4 hal yaitu :
1)
adanya
motivasi
2)
adanya
perhatian dan mengetahui sasaran
3)
adanya
usaha
4)
adanya
evaluasi dan pemantapan hasil
Apabila siswa yang bersangkutan mengalami masalah
dengan keempat factor tersebut maka dimungkinkan siswa tersebut akan mengalami
kesulitan belajar.
Blassic
dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan
bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik
yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya
menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang
normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting
dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi
motoriknya. Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5)
menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang
ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan
tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin
bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Untuk mengetahui kesulitan belajar yang sedang dialami
oleh peserta didik kita dapat melakukan diagnosis kesulitan belajar. Menurut Thorndike dan
Hagen, sebagaimana dikutip oleh Abin
(2004 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai upaya atau proses menemukan kelemahan atau
penyakit (weakness , disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui
pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya (symtomps) ; study yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan
karakteristik atau kesalaha-kesalahan dan sebagainya yang esensial ; keputusan yang dicapai setelah dilakukan
suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal .
Dengan
mengaitkan pengertian kesulitan belajar dan diagnosis maka menurut Abin (2004 : 309) diagnostik kesulitan belajar
sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar
belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan
berbagai data/ informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan
untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan
pemecahannya. “Seorang
siswa dipandang mengalami kesulitan belajar jika yang bersangkutan tidak
berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan ukuran
dan criteria yang telah ditentukan.
Burton dalam Abin (2004 : 308)”.
2.2 Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Burton,
sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2004 : 327),
faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor
internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor
eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
1.
Faktor Internal
Yang dimaksud
dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor
ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
1.
Faktor kejiwaan, antara lain :
1)
minat terhadap mata pelajaran kurang;
2)
motif belajar rendah;
3)
rasa percaya diri kurang;
4)
disiplin pribadi rendah;
5)
sering meremehkan persoalan;
6)
sering mengalami konflik psikis;
7)
integritas kepribadian lemah.
2.
Faktor kejasmanian, antara lain :
1)
keadaan fisik lemah (mudah terserang
penyakit);
2)
adanya penyakit yang sulit atau tidak
dapat disembuhkan;
3)
adanya gangguan pada fungsi indera;
4)
kelelahan secara fisik.
2.
Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang
berada atau berasal dari luar siswa. Faktor
dari luar siswa (situasi sekolah dan masyarakat) :
1. Kurikulum
yang seragam , bahan dan buku yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu .
2. Ketidaksesuaian
standar administrative (sistem pengajaran) , penilaian , pengelolaan kegiatan
dan pengalaman belajar-mengajar .
3. Terlalu
berat beban belajar siswa dan/atau mengajar guru .
4. Terlalu
besar populsi siswa didalam kelas , terlalu menuntut banyak kegiatan di luar .
5. Terlalu
sering pindah sekolag atau program , tinggal kelas .
6. Kelemahan
sistem belajar-mengajar pada tingkat pendidikan (dasar/asal) .
7. Kelemahan
dari kondisi rumah tangga (pendidikan , status sosial ekonomis ,
keutuhan/keluarga , besarnya anggota keluarga , tradisi dan kultur keluarga ,
ketentraman dan keamanan sosial psikologis ) .
8. Terlalu
banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat
dalam kegiatan ekstrakurikuler .
9. Kekurangan
makan (gizi , kalori ) .
2.3
Ciri-ciri Siswa Mngalai Kesulitan Belajar
Burton
(1952:622-624) mendefinisikan sekaligus bisa dilihat ciri seorang siswa
mengalami kesulitan belajar bila siswa menunjukan kegagalan tertentu dalam
mencapai tujuan-tujuan belajarnya . Kegagalan belajar didefinisikan sebagai
berikut :
1. Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu
tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau
tingkat penguasaan (level of mastery)
minimal dalam pelajaran tertetu, seperti yang telah ditetapkan oleh oarang
dewasa atau guru (critreon refrenced).
Atau siswa yang bersangkutan tidak bisa memenuhi KKM atau passing grade, kasus
semacam ini dinamakn lower group
2. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak
dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran
tingkat kemampuan: intelegensi, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya
atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya
kasus siswa seperti ini dogolongkan kedalm under
archievers.
3. Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak
dapat mewujudkan tuga-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai
dengan pola organismiknya (his organismic
pattern) pada fase perkembangan tertentu. Kasus seperti ini digolongkan ke
dalam slow learnes.
4. Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak
berhasil mencapai tingkat penguasaan (level
of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat (prerequisite) bagi kelanjutan (continuity)
pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus seperti ini dapat digolongkan ke dalam
slow learnes atau belum matang (immature) sehingga mungkin harus menjadi
pengulang (repeaters) pelajaran.
2.4
Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Ross
dan Stanley (1956:332-341) menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the levels
of diagnosis) itu sebagai berikut :
1. Siapa
siswa yang mengalami gangguan ?
2. Dimanakah
kelemahan-kelemahan itu dapat dialokasikan ?
3. Mengapa
kelemahan itu terjadi ?
4. Penyembuhan
apakah yang disarankan ?
5. Bagaimanakah
kelemahan itu dapat dicegah ?
Dari skema tersebut , tampak bahwa
keeempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan
(corrective diagnosis) atau penyembuhan (curative) . Sedangkan langkah yang
kelima merupakan usaha pencegahan (preventive) .
Burton (1952:640-652) menggariskan
berbeda , yaitu berdasarkan kepada teknik dan instumen yang digunakan dalam
pelaksanaannya sebagai berikut .
1.
General
diagnosis
Pada
tahap ini lazim dipergunakan tes baku , seperti yang dipergunakan untuk
evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar . Sasarannya , untuk
menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu .
2.
Analistic
diagnostic
Pada
tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic .Sasarannya , untuk
mengetahui dimana letak kelemahan tersebut .
3.
Psycological
diagnosis
Pada
tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
a. Observasi
b. Analisis
karya tulis
c. Analisi
proses dan respon lisan
d. Analisis
berbagai catatan objektif
e. Wawancara
f. Pendekatan
laboratories dan klinis
g. Studi
Kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah
ini pada dasarnya ditujukan untuk memehami karakteristik dan fakor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kesulitan.
Dari
kedua model pola pendekatan diatas kita dapat menjabarkannya kedalam suatau
pola pendekatan operasional sebagai berikut:
Input
1: informasi / data prestasi dan proses belajar
Identifikasi kasus: menandai siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar
Input
2: informasi / data tes / analisis
diagnostic
Identifikasi masalah: menandai dan melokalisasi dimana
letaknya kesulitan
Input
3: informasi / data diagnostic psikologis
1. Identifikasi faktor penyebab kesulitan: menandai jenis
dan karakteristik kesulitan dengan faktor penyebabnya.
2. Prognosis: mengambil kesimpulan dan keputusan serta
meramalkan kemungkinan penyembuhan.
3. Rekomendasi/Refferal: membuat saran alternative
pemecahannya. .
2.5
Macam-Macam
Kesulitan Belajar
1. Learning
disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang
mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi
belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang
bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi
yang dimilikinya.
2. Learning
disfunction adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan
siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak
menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan
psikologis lainnya.
3. Underachiever merupakan
siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di
atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
4. Slow learner atau lambat
belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan
waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf
potensi intelektual yang sama.
5. Learning
disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala
dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil
belajar di bawah potensi intelektualnya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar
seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala.
2.6
Upaya
Penanganan dari Segi Teoritis
Menurut Abin (2004 : 331- 338 ) sebagai berikut dalam memberikan saran
tentang kemungkinan cara mengatasinya :
1.
Untuk Kasus Kelompok
Jika
mayoritas siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus ( minimum
acceptable performance ), kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan
patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar. Begitu juga dengan
kelas yang bernilai prestasi kelas di bawah kelas yang setaraf, kelas ini juga
patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar.
Jika
fakta di atas ternyata terjadi pada banyak bidang studi, dapat diduga bahwa
letak kelenahannya bersifat integral ( menyeluruh ) yang menyangkut keseluruhan
aspek kurikulum dan system pengajaran di kelas / sekolah yang bersangkutan,
tetapi kalau kasus tersebut hanya terjadi pada bidang studi tertentu maka
kelemahannya dapat dilokalisasikan pada system intruksional khusus yang
dipergunakan oleh guru bidang studi.
Estimasi
( perkiraan ) dan saran kemungkinan cara mengatasi kasus di atas dapat dilakukan
dengan terlebih dahulu mendefinisikan
a. jenis dan sumber penyebab
masalahnya,
b. karakteristik berat / ringannya
masalah. Sampai saat ini sumber penyebab masalahnya dapat dikatakan dari luar
diri diri siswa karena yang mengalami kesulitan hampir semua siswa dalam satu
kelas sedangkan karakteristik masalahnya adalah sangat mungkin diatasi,
berdasarkan gejala – gejala khas yang menyangkutkan kelompok.
Sedangkan kemungkinan cara mengatasi
adalah dengan program pengajaran khusus ( pengayaan ) jika kelemahannya
bersumber dari kurikulum. Jika kelemahannya bersumber dari system evaluasi,
maka kemungkinan cara mengatasinya dengan pengembangan system penilaian yang
menggairahkan siswa. Sedangkan jika kelemahan terdapat pada faktor kondisional,
kemungkinan dapat diatasi dengan pemenuhan buku, laboratorium dan sebagainya.
2.
Untuk Kasus Individu
Jika
ternyata hanya sebagaian kecil dari siswa (± 5 – 25 % ) yang angka prestasinya tidak memadai batas lulus
dan atau lebih kecil dari rata – rata nilai prestasi kelas, kita dapat langsung
menyimpulkan bahwa kasus kesulitan belajar itu bersifat individu.
Permasalahannya pun dapat disimpulkan lebih lanjut :
1.
Bersifat menyeluruh, jika ternyata kelemahannya terjadi pada
seluruh atau sebagaian besar bidang studi yang diikutinya.
2. Bersifat segmental atau sektoral, jika ternyata kelemahannya
terjadi pada sebagaian bidang studi yang diikutinya.
3. Bersifat personal, jika ternyata
kelemahan itu bukan dalam segi prestasi studi tetapi segi proses atau
penyesuaian dirinya.
Sedangkan
sumber dan faktor penyebabnya dapat berupa faktor organismik siswa yang
bersangkutan, sukar mengubah diri dengan pola – pola kebiasaan belajar yang
lebih sesuai, sikap menyepelekan system penilaian partisipasi dan belum
menguasai pengetahuan dasar. Faktor dari luar diri siswa juga dapat berpengaruh
pada hal ini, contohnya hampir sama pada kasus kelompok yang sebelumnya telah
dijelaskan.
Untuk
mengatasi kasus individu ini, sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang
lebih muda diatasi dan mana yang lebih sulit. Jika faktor berpengaruh adalah
faktor hereditas / gen maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil
kemungkinannya untuk mendapatkan hasil. Yang diperlukan untuk siswa semacam ini
adalah penyaluran / penjurusan kepada program pendidikan tertentu yang sesuai
dengan kemampuannya.
Jika
kelemahan itu bersumber dari aspek organismik lainnya, seperti kebiasaan
belajar, minat dan lingkungan, maka penyembuhan secara metodologis dapat
diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relatif lama. Untuk
kesulitan belajar yang dialami oleh individual kita dapat membantu dengan
adanya progam remedial dan konseling individu.
DAFTAR PUSTAKA
Makmun, Abin. S.
2004. Psikologi Kependidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rifa’i, Achmad dan Catharina. 2012. Psikologi
pendidikan. Semarang: UPT
UNNES PRESS
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :
Alfabeta
Sutoyo, Anwar. 2012. Pemahaman
Individu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syah, Muhibbin.
2000. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Walgito, Bimo.
22010. Bimbingan Konseling Studi dan Karier. Yogyakarta: Andi