MENJELASKAN BERBAGAI
TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PENELITIAN KUANTITATIF
Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi
kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian, dan
kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan
validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan
untuk mengumpulkan data.
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai
setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya,
dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium
dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagai responden, pada suatu
seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila di lihat dari sumber datanya,
maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul
data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data
kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.
Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka
teknik pengumpulan data dapat dilakukan de gan interview (wawancara), kuesioner
(angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.
A.
Interview (wawancara)
Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri
pada laporan tentang diri sendiri atau self-report atau setidak-tidaknya pada
pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa
anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview
dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut:
1.
Bahwa subjek (responden)adalah orang yang
paling tahu tentang dirinya sendiri
2.
Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada
peneliti adalah benar dan dpat dipercaya.
3.
Bahwa interpretasi subyek tentang
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya daah sama dengan apa
yang dmaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur
maupun tidak terstruktur, dan dapat dikalukan melalui tatap muka (face to face)
maupun dengan menggunakan telepon.
Ø Wawancara
Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik
pengumpulan data, bila peneliti telah mengatehui dengan pasti tentang informasi
apa saja yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara,
peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan
tertulis yang alternative jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara
terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan peneliti
mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data dapat
menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap
pewawancara mempunyai ketrampilan yang sama, maka diperlukan training kepada
calon pewawancara.,
Dalam melakukan wawancara selain harus membawa instrumen
sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpulan data juga dapat menggunakan
alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan menggunakan materi yang
lain membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.
Berikut ini contoh wawancara terstruktur , tentang
tanggapan masyarakat terhadap berbagai pelayanan pemerintah kabupaten tertentu
yang diberikan kepada masyarakat. Pewawancara melingkari salah satu jawaban
yang diberikan responden.
1.
Bagaimana tanggapan
bapak/ibu terhadap pelayanan bidang kesehatan kabupaten ini ?
a.
Sangat bagus
b.
Bagus
c.
Tidak bagus
d.
Sangat tidak bagus
2.
Bagaimana tanggapan
bapak/ibu terhadap pelayanan air dikabupaten ini ?
a.
Sangat bagus
b.
Bagus
c.
Tidak bagus
d.
Sangat tidak bagus
Ø Wawancara
Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang
telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman
wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permaslahan yang akan
ditanyakan.
Contoh bagaimana pendapat bapak/ibu terhadap kebijakan pemerintah terhadap Perguruan
Tinggi Berbadan Hukum? Dan bagaimana peluang masyarakat miskin dalam memperoleh
pendidikan tinggi yang bermutu?
Wawancara tidak terstruktur atau terbuka , sering
digunakan dalam penlitian pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih
mendalam tentang responden. Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha
mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada
objek, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau
variabel apa yang harus diteliti.
Dalam wawancara tidak tersetruktur , peneliti belum
mengetahui secara pasti data yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih
banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden. Informasi yang
diperoleh dari wawancara tidak terstruktur sering bias. Bias merupakan
menyimpang dari yang seharusnya, sehingga dapat dinyatakan data tersebut
subjektif atau tidak akurat.
B. Kuesioner (angket)
Kuesioner merupakan tehnik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau penyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan tehnik
pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang
akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu
kuesioner juga cocok untuk digunakan bila jumlah responden cukup banyak dan
tersebar diluas wilayah. Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan
tertutup atau terbuka, dapat diberikan responden secara langsungatau dikirim
melalui pos atau internet.
Bila
penelitian dilakukan dalam lingkup yang tidak terlalu luas, sehingga kuesioner
dapat diantarkan langsung dalam waktu tidak terlalu lama, maka pengiriman angket
kepada responden tidak perlu melalui pos. Dengan adanya kontak langsung antara
peneliti dengan Responden akan menciptakan suatu kondisi yang cukup baik,
sehingga responden dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
Uma sekaran (1992) mengemukakan
beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu:
prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
1.
Prinsip penulisan angket
Prinsip
ini menyangkut beberapa factor yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang
digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka positif-negatif, pertanyaan tidak
mendua, tidak menannyakan hal-hal yang mendua, tidak menanyakan hal-hal yang
sudah lupa, pertanyan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan
pertanyaan.
- Isi dan tujuan pertanyaan
Yang
dimaksud isi disini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk
pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus
disusun dalam skala pengukuran dan jumlah item nya mencukupi untuk mengukur
variable yang diteliti.
- Bahasa yang digunakan
Bahasa
yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan
kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat berbahasa
Indonesia, maka angket jangan disusun dengan bahasa Indonesia. Jadi bahasa yang
digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden,
keadaan social budaya, dan “frame of reference” dari responden.
- Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe
pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, (kalau dalam wawancara:
terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat menggunakan kalimat
positif dan negative.
Pertanyaan terbuka, adalah
pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk
uraian tentang sesuatu hal. Contoh: bagaimanakah tanggapan anda terhadap
iklan-iklan di TV saat ini? Sebaliknya pertanyaan tertutup, adalah pertanyaan
yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih
salah satu alternative jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Setiap
pertanyaan angket yang mengharapkan jawaban berbentuk data nominal, ordinal,
interval dan rasio, adalah bentuk pertanyaan tertutup.
Pertanyaan tertutup akan
membantu responden untuk menjawab dengan
cepat, dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap
seluruh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan atau pernyataan dalam angket
perlu dibuat kalimat positif dan negative agar responden dalam memberikan
jawaban setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis.
- Pertanyaan tidak mendua
Setiap
pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga menyulitkan
reponden untuk memberikan jawaban.
Contoh:
bagaimana pendapat anda tentang kualitas dan relevansi pendidikan saat ini? Ini
dalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekaligus,
yaitu kualitas dan relevensi. Sebaiknya
pertnyan tersebut dijadikan menjadi dua yaitu: bagaimanakah kualitas
pendidikan? Bagaimanakah relevansi pendidikan?
- Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap
pertanyaan dalam istrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang
sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan
berfikir berat.
Contoh:
bagaimanakah kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 30 tahu yang
lalu? Menurut anda, bagaimanakah cara mengatasi krisis ekonomi saat ini?
(kecuali penelitian yang mengharapkan pendapat para ahli). Kalau mislnya umur
respondan yang diberi agket baru 25 tahun, dan pendidikannya rendah maka akan
sulit memberikan jawaban.
- Pertanyan tidak menggiring
Pertanyaan
dlam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke
yang jelek saja. Misalnya: bagaimanakah prestasi belajar anda selama disekolah
dulu? Jawaban respondden tentu cenderung akan menyatakan baik. Bagaimanakah
prestasi kerja anda selama setahun terkhir? Jawabannya akan cenderung baik.
- Panjang pertanyaan
Pertanyaan
dalam angket sebiknya tidak terlu paanjang sehingga akan membuat jenuh
responden dalam mengisi. Bila jumlah variable banyak, sehingga memerlukan
instrument yang banyak, maka instrument tersebut dibuat bervariasi alam
penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya.
Disarankan empiric jumlah pertanyaan yang emadahi adalah antara 20 sampai
dengan 30 pertanyaan.
- Urutan pertanyaan
Urutan
pertanyaan dalam angket dimulai dari yang umum menujju ke hal yang spesifik,
atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu
dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden
untuk menjawab. Kalau pda walnya sudah diberi pertanyaan yang sulit, atau yang
spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket yang telah
mereka terima. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila tingkat
kematangan responden terhadap maasalah yang ditanyakan sudah tinggi.
- Prinsip pengukuran
Angket
yang diberikan kepada responden adalah merupakan in strumen penelitian, yang digunakan untuk mengukur variable yang
akan diteliti. Oleh karena itu
instrument angket trsebut harus dapat digunakan untuk menapatkan data yang
valid dan reliable tentang variable yang diukur. Supaya diperoleh data
penelitian yang valid dan reliable, maka sebelum instrument angket tersebut
diberikan kepada responden, maka perlu perlu diuji validitas dan
reliabilitasnya terlebih dulu. Instrument yang tidak valid dan reliable bila
digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan
reliable pula.
- Penampilan fisik angket
Penampilan
fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon dalam mengisi
angket. Angket yang dibuat dikertas buram akan mendapat respon yang kurang
menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang
bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna
akan menjadi mahal.
C.
Observasi
Observasi tidak terbatas pada orang , tetapi
juga obyek-obyek alam lain. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi
merupakan proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses
biologis dan psikologis.
Teknik pengumpulan data dengan observasi
digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja,
gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu vesar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data,
observasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a.
Observasi Berperanserta (Participant
observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat langsung
dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati. Sambil melakukan
pengamatan, peneliti ikut malakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan
ikut merasaka suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang
diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna
dari setiap perilaku yang nampak.
b.
Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak
terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Peneliti mencatat,
menganalisis, dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan. Pengumpulan data dengan
observasi nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam, dan
tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai dibalik perilaku yang
nampak, yang terucapkan dan yang tertulis.
Dari segi instrumen yang digunakan, maka
observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur:
a.
Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang
telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan
dimana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah
tahu dengan pasti tentang variable apa yang akan diteliti. Dalam melakukan
penelitian, peneliti meggunakan intrumen penelitian yang telah teruji validitas
dan reliabilitasnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat
juga digunakan sebagai pedoman untuk melakukan observasi.
b.
Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi
yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.
Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan
diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang
baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
PENELITIAN TINDAKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Konsep Dasar
Makna Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Konsep penelitian
tindakan merupakan terjemahan dari action research
, yang secara sederhana diartikan sebagai bentuk penelitian terhadap suatu tindakan yang telah
dilaksanakan sesuai dengan rancangan. Istilah penelitian mengandung makna
sebagai upaya mencermati sesuatu, dalam hal ini suatu tindakan yang dirancang
dan dilaksanakan secara cermat untuk mengatasi suatu permasalahan yang
dihadapi. Kegiatan penelitian tindakan (action research) pada awalnya dilakukan
di dunia industri, ditujukan untuk memperbaiki kinerja para karyawan sehingga
diharapkan produktivitas meningkat. Proses action
Research pada seting industri telah menunjukkan hasil yang luar
biasa, yakni meningkatnya kinerja para karyawan yang disertai dengan
peningkatan produktivitas kerjanya. Bertolak dari keberhasilan ini, gagasan
action research diangkat dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan sebutan
classroom action research
, yakni suatu penelitian tindakan (action research) yang
dilaksanakan di kelas. Makna penelitian tindakan (action research) dalam seting
pendidikan dijelaskan oleh McNiff (1991) sebagai berikut:
Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by
participants (teachers, students or principals, for example) in social
(including educational) situations in order to improve the rationality and
justice of (1) their own social or educational practices, (2) their
understanding of these practices, and
(3) the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan beberapa bebepara ide pokok
tentang penelitian tindakan, yaitu :
Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk inkuiri atau penyelidikan
yang dilakukan melalui refleksi diri.
Penelitian tindakan dilakukanoleh peserta yang terlibat dalam
situasi yang diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar
pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap
praktik tersebut, dan situasi atau lembaha tempat praktik tersebut
dilaksanakan.
Berdasarkan gagasan di atas, maka penelitian tindakan itu merupakan
penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode
utamanya, dilakukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan bertujuan
untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek (Wardhani, 2008: 1.4). Senada
dengan pengertian tersebut, Mills (2000) mendefinisikan penelitian tindakan
sebagai “systematic inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau
konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang
dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan persepsi serta
mengembangkan “reflective practice” yang berdampak positif dalam berbagai
praktik persekolahan, termasuk memperbaiki hail belajar siswa. (Wardhani, 2008:
1.4). Mengacu pada pengertian penelitian tindakan di atas, dapat dirumuskan
makna penelitian tindakan kelas sebagai penelitian yang dilakukan oleh guru di
dalam kelasnya sendiri, melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki
kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Pada seting bimbingan dan
konseling, penelitian tindakan itu dilaksanakan oleh guru pembimbing atau
konselor sekolah di dalam kelasnya (bimbingan dan konseling
kelompok atau bimbingan klasikal) dan secara invidual dengan kons
eli, melalui refleksi diri sebagai teknik utamanya, dengan tujuan
untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar konseli meningkat –
f. Karakteristik Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan makna penelitian tindakan seperti dipaparkan di atas,
dapat dirumuskan karakteristik penelitian tindakan bimbingan dan konseling
sebagai berikut:
1)Merupakan penelitian kolaborasi peneliti dengan teman
sejawat/guru/praktisi pada semua langkah penelitian
2) Fokus pada pemecahan masalah praktik bimbingan dan konseling di
dalam kelas maupun secara individual.
3) Partisipatori: melibatkan semua pelaksana program yang akan
diperbaiki termasuk subyek penelitian.
4) Pelaksanaan penelitian melalui spiral refleksi diri
(self-reflective)
yakni guru pembimbing atau konselor sekolahmengumpulkan data dari
praktiknya sendiri melalui refleksi: mengingatapa yang dikerjakannya di kelas
atau terhadap konseli secaraindividual, apa dampak tindakan tsb. bagi konseli,
mengapa dampaknya seperti itu, apa kekuatan dan kelemahan tindakan seperti itu,
kemudian mencoba (tindakan) memperbaiki kelemahan itu, dst.
5) Bertujuan untuk memperbaiki proses bimbingan dan konseling,
dilakukan bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian dilakukan ada
siklus : perencanaan (planning ) tindakan pelaksanaan (acting) pengamatan
(observing ) refleksi (reflecting )revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan
dan konseling). g.Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
1) Kegiatan penelitian dilakukan dalam situasi rutin penyelenggaraan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah
2) Dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna, sehingga
perlu selalu memperbaiki diri.
3) Penelitian dilakukan atas dasar hasil analisis SWOTterhadap
pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4) Penelitian merupakan upaya pemecahan masalah berdasarkan pengalaman
Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah dan bersifat sistemik.
5) Dalam perencanaan penelitian tindakan selalu harus memperhatikan
prinsip SMART.
a) Specific yaitu permasalahan dan tindakannya khusus atau tertentu.
b) Managable yaitu dapat dilaksanakan oleh guru pembimbing atau
konselor sekolah.
c) Acceptable, yaitu dapat diterima oleh khalayak atau anggota
profesi bimbingan dan konseling.
d) Realistic, yaitu terdukung sumber dayayang tersedia, baik sumber
daya manusia (guru pembimbing atau konselor sekolah) maupun sarana/prasarana.
e) Time-bound, yaitu ada batasan waktu pelaksanaan kegiatan minimal 2
siklus, lajimnya antara 3 – 5 siklus.
h.Langkah-langkah Penelitian
Bimbingan dan Konseling Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ditempuh
seperti halnya penelitian tindakan kelas, yakni dilaksanakan melalui proses
pengkajian berdaur atau bersilus, yang terdiri atasempat tahap, yaitu:
(1) perencanaan (planning), (2) melaksanakan tindakan (acting), (3)
pengamatan/pengumpulan data (observing), dan (4) melakukan refleksi (reflecting),
kemudian ada revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).
Revisi ini pada dasarnya merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Hal ini
dilakukan dengan mengacu pada hasil refleksi terhadap tindakan yangtelah
dilakukan pada siklus terdahulu. Revisi dilakukan jika ternyata tindakan yang
dilakukan belum berhasil memperbaiki praktik atau memecahkan masalah yang
menjadi kerisauan guru pembimbing atau konselor sekolah. Dalam
praktiknya, setiap tahap kegiatan pada sikluspenelitian tindakan dapat terdiri
atas atau didahului oleh beberapa langkah kegiatan. Namun secara operasional,
prosedur perencanaan dan pelaksanaan penelitian tindakan ditempuh dengan empat
langkah utama, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan
merumuskan masalah, (3) merencanakan penelitian tindakan, dan (4) melaksanakan
penelitian tindakan (Wardhani, 2008: 24). Dalam penelitian tindakan bimbingan
dan konseling, keempat langkah tersebut diuraikan sebagai berikut.
1)Identifikasi masalah Penelitian tindakan bimbingan dan konseling
bertolak dari keresahan yang dirasakan oleh Guru Pembimbing atau Konselor
Sekolah tentang praktik pelayanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Apa
yang terjadi ketika Guru melaksanakan praktik pelayanan bimbingan dan konseling
? Pertanyaan ini merupakan langkah awal atau Refleksi awal dalam suatu proses
penelitian tindakan bimbingan dan konseling. Dari pertanyaan tersebut kemudian
berlanjut pada pertanyaan berikut: Masalah apa yang ditimbulkan oleh
kejadianitu ? Apa pengaruh masalah tersebut terhadap konseli atau kelas
(kelompok konseli) ? Apa yang akan terjadi jika masalah tersebut dibiarkan ?
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah atau kejadian tersebut ?
Proses identifikasi masalah atau refleksi awal penelitian tindakan difokuskan
pada proses pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan bidang layanannya.
Identifikasi dapat difokuskan pada empat pilar layanan bimbingan dan konseling
(DitjenPMPTK Depdiknas, 2007: 40-45), yaitu meliputi program:
a) pelayanan dasar, mencakup bimbingan klasikal, pelayanan
orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok,dan pelayanan pengumpulan
data (apliaksi instrumentasi)
.
b)Pelayanan responsif, mencakup konseling individual dan kelompok,
referal (rujukan atau alih tangan), kolaborasi dengan guru mata pelajaran atau
wali kelas,kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak lain di
luar sekolah, konsultasi, bimbingan teman sebaya, konferensi kasus, dan
kunjungan rumah.
c)Perencanaan individual, di sini konselor membantu peserta \didik
menganalisis kelebihan dan kekurangan dirinyaberdasarkan data atau informasi
yang diperoleh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir.
Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir
yang diperolehnya untuk:
(1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif
kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, ataukegiatan yang berfungsi
untuk memperbaiki kelemahandirinya, (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan
tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan
yang telah dilakukannya.
d)Dukungan sistem, mencakup pengembangan profesi dan manajemen
program 2) Analisis dan perumusan masalah Masalah yang teridentifiksasi
selanjutnya dianalisis, sehingga dapat dirumuskan masalah penelitian tindakan
bimbingan secara jelas. Agar analisis tepat perlu didukung oleh dataatau
informasi yang memadai, sehingga guru pembimbing atau konselor sekolah perlu
mengkaji ulang berbagai dokumen yang ada. Proses analisis masalah ini
sebenarnya masih kelanjutan dari kegiatan refleksi, yang lebih difokuskan pada
menemukan faktor penyebab dan kemungkinan upaya/tindakan/pelayanan bimbingan
dan konseling yang dapat diterapkan untuk mengatasinya.
an dirumuskan
masalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling dalam bentuk
pernyataan atau (seringkali) pertanyaan.
3)Merencanakan penelitian (perbaikan) tindakan Rencana penelitian
tindakan bimbingan dan konselingdisebut juga rencana perbaikan pelayanan
bimbingan dan konseling. Rencana perbaikan yang akan dilakukan sebaiknya
dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis ini menggambarkan bahwa
tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling yang dipilih tersebut
dapat memperbaiki/mengatasi permasalahan yang dihadapi. Tindakan (perbaikan)
yang dipilih dapat berupa strategi, pendekatan, metode atau teknik-teknik dalam
pelayanan bimbingan dan konseling. Cara perbaikan atau tindakan pelayanan
bimbingan dan konseling tersebut dikembangkan sesuai dengan konsep teoretis
yang mendasarinya, kemampuan dan komitmen guru pembimbing atau konselor
sekolah, karakteristik konseli, sarana dan prasarana sebagai media pelayanan
yang tersedia, dan nuansa pelayanan bimbingan dankonseling di sekolah tersebut.
4) Melaksanakan penelitian tindakan Pelaksanaan tindakan (perbaikan)
dimulai dengan mempersiapkan rencana pelayanan dan skenario tindakan/pelayanan
bimbingan dan konseling, serta menyiapkan kelengkapan pendukung yang dapat
mempermudah pelaksanaan, perekaman/pengamatanproses maupun hasil, dan
pelaporannya.
6. Instrumen Observasi dan Evaluasi Tindakan Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling
dapat diketahui melalui: (1) hasil pengamatan terhadap kinerja guru
dalam melakuakan tindakan yang dilakukan oleh teman sejawat, (2) perubahan
perilaku konseli selama proses, dan (3) hasil akhir yang ditunjukkan oleh
perubaha perilaku konseli setelah mengikuti proses pelayanan bimbingan dan
konseling. Pengamatan oleh teman sejawat dan tentang kinerja guru/konselor dan
perubahan perilaku konseli selama proses pelayanan menggunakan pedoman
pengamatan; sedangkan hasil akhir tinadakan (perbaikan) pelayanan diperoleh
melalui evaluasi akhir pelayanan bimbingan dan konseling.
7. Evaluasi/refleksi pelaksanaan Tindakan Bimbingan dan Konseling
Evaluasi atau refleksi pelaksanaan tindakan didasarkan pada data atau informasai
berikut: (1) hasil pengamatan teman sejawat terhadap kinerja (tindakan) guru
pembimbing/konselor, (2) hasil pengamatan perubahan perilaku konseli selama
proses tindakan, dan (3) hasil akhir berupa perubahan perilaku konseli setelah
mengikuti tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling.
8. Merancang Perbaikan Tindakan Bimbingan dan Konseling Kegiatan ini
dimaksudkan untuk merancang perbaikan tindakan bimbingan dan konseling siklus
kedua. Tentu saja, rancangan perbaikan tindakannya sangat bergantung pada hasil
evaluasi/rekleksi pelaksanaan tindakan bimbingan dan konseling pada siklus
pertama. Oleh karena itu, rancangan tindakan (perbaikan) siklus kedua bersifat
menyempurnakan rencana tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling
siklus pertama.
DAFTAR PERTANYAAN
1.
Bagaimana
tindakan yang harus dilakukan apabila observee mengetahui jika observer sedang
mengamatinya?
2.
Langkah
apa yang dapat dilakukan observer agar perilaku siswa selalu wajar dan tidak
dibuat-buat?
3.
Apabila
responden mengisi angket tidak sesuai dengan prosedur yang peneliti tetapkan
sehingga dapat menghambat dalam menganalisis, apa yang dapat peneliti lakukan?
4.
Apakah
peneliti perlu melakukan pretest terlebih dahulu sebelum kuesioner tersebut
disebar kepada responden?
5.
Bagaimana
bila kuesioner tersebut masih perlu adanya revisi, sedangkan deadline
menganalisis sangat terbatas, tindakan apa yang harus segera dilakukan oleh
peneliti?
6.
Strategi
apa yang dapat peneliti lakukan, agar responden tertarik untuk mengisi angket
tanpa peneliti mengeluarkan banyak uang seperti dalam mencetak pertanyaan atau
pernyataan!
7.
Daftar
Pustaka
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung : Alfabeta






0 komentar:
Posting Komentar
Tulis komentar yang sopan yah..?? ^_^